Saat Nikki Saryan menelepon salah satu mantan sugar daddy-nya pada Maret lalu, yang ingin ia bicarakan adalah uang, tapi bukan dengan cara yang diharapkan pria tersebut. Meski pernah meraih pendapatan $20.000 per bulan dan diajak jalan-jalan kelas satu ke New York City, kini Saryan justru membutuhkan nasihat investasi.
Secara spesifik, Saryan ingin tahu saham apa yang harus dibeli, “seperti di mana tepatnya saya harus menempatkan uang dengan aman atau apakah saya bahkan harus memasukkannya ke pasar saham,” katanya kepada WIRED. Namun, sugar daddy-nya yang bekerja di bidang keuangan dan berusia akhir enam puluhan itu justru menyarankan akun investasi berisiko rendah dan pertumbuhan lambat dari Charles Schwab yang dianggapnya lebih aman ketimbang Wall Street. Mempertimbangkan bahwa sebuah postingan Truth Social dari Presiden Donald Trump bisa membuat pasar global naik dan jatuh dalam sekejap, sarannya mungkin ada benarnya.
“Dia bilang saya tidak boleh investasi saham apa pun sekarang, untuk tenang dan bersantai, karena semuanya agak kacau saat ini,” ujarnya.
Dalam kemerosotan ekonomi terkini ini, di mana biaya hidup melonjak bagi semua orang dan perekrutan tenaga kerja berada di titik terendah bersejarah sejak masa pandemi, hubungan sugar—sebuah penjajakan di mana satu pihak memberikan dukungan finansial dan hadiah sebagai tukar untuk kebersamaan romantis—bagi sebagian orang telah menjadi strategi bertahan hidup yang esensial. Namun ‘gula’ yang dipertukarkan tidak lagi sekadar tunjangan bulanan dan perjalanan mewah, melainkan juga keahlian finansial.
Saryan, yang berusia 30 tahun dan tinggal di Los Angeles, biasanya bukan meminta nasihat—melainkan memberikannya. Di TikTok, di mana ia berkontribusi dengan nama SugarBabyBestie, ia mengajarkan perempuan cara menghasilkan uang dengan cepat, membagikan pengetahuan tentang situs sugaring terbaik dan cara menghindari penipu. “Ini agak seperti bermain catur,” katanya mengenai gaya hidup tersebut. Saran mantan daddy-nya tentang akun investasi awalnya mengejutkannya, tapi pada akhirnya ia terbuka dengan ide tersebut. “Uang saya tumbuh pelan,” ujarnya, “tapin tetap tumbuh.”
Kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian juga telah mengeringkan pengeluaran banyak sugar daddy. Pergeseran ini menciptakan semacam resesi dalam dunia sugaring, di mana kini terjadi penurunan permintaan dan kelebihan pasokan.
“Dalam ekonomi seperti ini, saya berhenti menjadi sugar daddy,” kata Brian, seorang daddy berusia empat puluhan yang bekerja di bidang teknologi dan—seperti banyak narasumber dalam artikel ini yang menyebut alasan profesional—hanya bersedia disebut nama depannya. “Tarif Trump tidak membantu, dan kini kita melihat kebangkitan AI. Orang kaya sejati tidak akan terdampak dan akan terus lanjut, tapi saya rasa hidup akan segera berubah bagi seluruh kelas jutawan level rendah yang membentuk mayoritas [sugar daddy]. Pada kenyataannya, hanya ada jauh lebih sedikit uang untuk ‘dimandikan’ kepada wanita-wanita cantik.”
Dan bahkan bagi para daddy yang tidak perlu mengurangi pengeluaran, terlepas dari inflasi dan kenaikan harga barang, tidak semua orang ingin membayar mahal lagi. “Hanya karena pria mampu membayar lebih, itu belum tentu diterjemahkan ke jumlah uang yang lebih besar yang bersedia mereka berikan,” kata Will, seorang akuntan dan daddy berusia empat puluhan yang berbasis di Milwaukee. “Anda tidak melihat Jeff Bezos pergi ke Starbuck dan membayar $100 untuk secangkir kopi $5 hanya karena ia mampu. Kita melihat sedikit dari fenomena itu dalam ‘mangkuk gula’.”
Roxanne, warga Denver berusia 42 tahun, telah menjalani belasan penjajakan dalam 20 tahun kariernya sebagai sugar baby. Dampak lingkungan politik terhadap gaya hidup ini telah mengubah segalanya, katanya. “Bagi wanita yang mengandalkan sugaring sebagai satu-satunya sumber penghasilan, dampaknya berat. Mereka terpaksa mencari sumber pendapatan lain, terkadang dengan memiliki lebih dari satu sugar daddy, bekerja di beberapa pekerjaan ‘biasa’, atau bahkan beralih ke prostitusi penuh.”