Peninggalan masa lalu umat manusia ternyata tidak sepenuhnya “dorman.” Riset terbaru menunjukkan bahwa sisa-sisa Ötzi “si Manusia Es” dipenuhi oleh mikroorganisme hidup yang aktif.
Ilmuwan di Italia melakukan survei ekstensif terhadap Ötzi, mumi yang membeku secara alami di glasier pegunungan selama lebih dari 5.000 tahun. Mereka menemukan banyak bakteri dan jamur di dalam serta di permukaan tubuh Ötzi; beberapa di antaranya mungkin bertahan hidup selama ribuan tahun dan tampaknya tetap aktif hingga kini meski disimpan dalam kondisi yang dijaga ketat. Temuan ini tidak hanya menggambarkan ketangguhan kehidupan mikroba, tetapi juga mengindikasikan bahwa kita perlu lebih berhati-hati dalam mengawetkan spesimen semacam ini begitu ditemukan.
“Penilaian komprehensif kami mengungkap bahwa si Manusia Es bukanlah kapsul waktu yang ‘dibekukan’ secara biologis, melainkan sebuah ekosistem yang kompleks.”
“Penilaian komprehensif kami mengungkap bahwa si Manusia Es bukanlah kapsul waktu yang ‘dibekukan’ secara biologis, melainkan sebuah ekosistem yang kompleks,” tulis para penulis dalam makalah mereka yang diterbitkan Selasa lalu di jurnal Microbiome.
Ötzi si ekosistem
Pada tahun 1991, Ötzi ditemukan di Pegunungan Alpen Ötztal yang membentang di perbatasan antara Italia dan Austria. Ia adalah mumi glasial tertua yang pernah ditemukan dan dipercaya meninggal pada usia 45 tahun sekitar 5.300 tahun yang lalu.
Sejak penemuan tersebut, ilmuwan telah memblajari banyak hal tentang kehidupan Ötzi dan masyarakat Zaman Tembaga tempat ia hidup. Hal itu mencakup makanan terakhirnya serta kemungkinan besar ia tewas akibat anak panah di punggungnya. Alat-alat yang ditemukan bersamanya juga berasal dari berbagai daerah yang kadangkala sangat jauh, sehingga menunjukkan adanya jalur perdagangan panjang di wilayah Eropa tersebut.
Meski demikian, perhatian terhadap mikrobioma Ötzi masih minim, menurut penulis riset sekaligus kepala Institut Studi Mumi di Eurac Research, Frank Maixner. Maixner dan timnya tidak hanya tertarik mengidentifikasi mikroorganisme yang diawetkan di dalam tubuhnya, tetapi juga yang ada di permukaan, termasuk mikroba yang mungkin secara tidak sengaja masuk setelah ia digali ditemukan.
![]() |
| Peneliti studi Mohamed Sarhan mengkoloni koloni ragi dari sampel perut Ötzi. © Eurac Research/Andrea De Giovanni |
Mereka mengumpulkan scrapel dari Ötzi dan lingkungan penyimpanannya di Museum Arkeologi Tyrol Selatan, Italia, untuk dianalisis secara genetik. Mereka juga menganalisa sampel tanah dari tempat asalnya ditemukan serta sampel Ötzi yang diambil sebelumnya pada 1992, 2010, dan 2019. Dari analisa ini, mereka membuat dua temuan besar.
“Pertama, kami mengidentifikasi bakteri usus kuna yang diawetkan di dalam Ötzi, yang kini sangat jarang ditemui pada komunitas modern dan industrialisasi—meskipun masih bisa ditemukan pada masyarakat dengan gaya hidup tradisional dan non-industrialisasi,” ungkap Maixner pada Gizmodo. “Bakteri ini memberi kita gambaran langka tentang kondisi usus manusia di Zaman Tembaga sebelum revolusi industrualisasi mengubah mikrobioma kita.”
“Ragi penyuka dingin ini tampaknya bertahan hidup selama ribuan tahun dan masih aktif secara biologis hari ini.”
Kejutan yang lebih besar terjadi ketika tim taey berhasil menggandakan empat kelompok ragi hidup dari tubuh Ötzi — salah satunya berasal dari kedalaman perutnya. “Ragi penyuka dingin ini tampaknya bertahan dalam waktu lama masih aktif hingga kini,” kata Maixner. Boelh jadi ragi ini adalah jamur yang sama yang awalnya menjajah tubuh Ötzi atau keturunan langsung mereka. Mereka juga menemukan bukti bahwa satu kelompok ragi bernama Glaciozyma telah aktif bertumbuhan meski lambat sejak 2010 — padahal suhu sangding.
Pelajaran dari Ötzi
Bakteri usus kuna Ötzi pasti bisa bercerita mengenai mikrobioma leluhur kita. Sementara itu, ragi yang bertahan hidup juga emmpunya aplikasi di masa depan, klaim peneliti, seperti fermentasi makanan pada suhu amat rendah.
| Ötzi diawetkan dalam ruang pendingin bertemperatur konstan −21°F (−6°C) dengan kelembapan jadi 99%. Ia ampai disemprot air secara rutin untuk mencegah hilangknya kadair-an. © Museo Archeologico Provinciale Rudolf-Stolz |
“Ragi ini memang teridentifikasi membuat racun¬– beberapa di antaranya punya ge- yang dibutuhkan menngurai fenol deasesien guna as mereka le ini
Agar tampil juga pada presentasi.⏎
