Seorang pekerja pabrik dari Youngstown, Ohio, yang di PHK udah jadi simbol politik Amerika selama dua puluh taun terakhir. Sekarang, seorang profesional keuangan nganggur dari pinggiran Philadelphia bisa jadi simbol politik masa depan—dan tuntutan mereka mungkin lebih susah diabaikan.
Gitu peringatan dari Fletcher School di Tufts University. Indeks Risiko Pekerjaan AI Amerika–sebuah analisis yang memetakan dampak ekonomi dan geografis risiko pekerjaan AI di 784 jenis pekerjaan–nunjukin persis di mana para pekerja kerah putih yang paling terancam oleh AI tinggal.
Bhaskar Chakravorti, dekan bisnis global di Fletcher School Tufts dan peneliti utama studi ini, bilang kalo mereka diorganisir dengan baik, para pekerja ini bakal jadi kekuatan politik yang lebih kuat daripada apapun yang udah dilihat Amerika dalam beberapa dekade terakhir. Konsentrasi geografis ini, yang dia sebut “Sabuk Kabel,” termasuk daerah pinggiran di sekitar kota-kota besar Amerika, banyak yang ada di negara bagian penentu.
“Mereka ini orang-orang yang punya akun LinkedIn,” katanya ke Fortune. “Mereka tau nomor telpon anggota kongresnya. Mereka pande nulis, desain web, analisis data, marketing. Aktivisme politik mereka bakal lebh kuat.”
Ancaman automasi AI yang mengintai udah menyentuh hati jutaan orang Amerika. Sebuah jajak pendapat NBC News baru-baru ini nemuin teknologi ini kurang populer dibanding Presiden Donald Trump dan Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai, bahkan setelah tindakan keras di Minneapolis yang mematikan. Selain risiko keamanan siber dan dampak lingkungan yang bikin orang marah sama teknologi ini, salah satu masalah utama yang menimbul kekhawatiran dan frustasi adalah bahwa pekerjaan berbasis pengetahuan makin keliatan rentan terhadap automasi AI.
Pemilih di negara bagian penentu yang bisa menentukan pemilu Amerika selanjutnya
Studi ini memperkirakan 9,3 juta pekerjaan rentan terhadap automasi AI di seluruh negeri. Itu setara dengan kerugian pendapatan sebesar $200 milyar. Dalam skenario ekstrim di mana AI bisa menggantikan pangsa tenaga kerja yang lebih besar, angka itu naik ke $1,5 trilliun.
Penelitian Chakravorti mengidentifikasi beberapa kelompok utama dengan konsentrasi tinggi pekerjaan berbasis pengetahuan, termasuk kota-kota seperti San Jose, Seattle, Boston, dan New York. Daerah-daerah ini menghadapi 3,5 kali kehilangan pekerjaan dan lebih dari lima kali kehilangan pendapatan dibanding daerah manufaktur tradisional.
Tapi pukulan politik yang sebenarnya ada di daerah pinggiran negara-negara bagian penentu yang penting, khususnya di sekitar Philadelphia, Atlanta, Phoenix, dan Detroit. Inilah daerah-daerah yang semua orang kenal saat pemilu presiden: Bucks County, Pa.; Gwinnett County, Ga., atau Maricopa County, Ariz. Mereka adalah titik-titik dengan upaya ‘door-knocking’ terbesar, di mana wartawan TV mengerumuni pemilih yang masih bimbang dan jajak pendapat demi jajak pendapat nunjukin persaingan yang ketat. Semuanya itu karena siapa yang memenangkan Gedung Putih sangat mungkin ditentukan oleh pemilih di daerah-daerah ini. Dan gak butuh banyak suara. Tahun 2024, Trump menang di Wisconsin dengan angka sekitar 29.000 suara.
Sumber: Indeks Risiko Pekerjaan AI Amerika / Fletcher School di Tufts University
Chakravorti bilang dalam sebuah esai baru-baru ini di Financial Times bahwa seperenam dari pekerjaan yang rentan ada di negara bagian penentu, mewakili perkiraaaan $119,5 milyar dalam pendapatan.
Belum jelas siapa yang bakal memanfaatkan kekuasaan Sabuk Kabel ini. Pemerintahan Trump selama ini mengambil pendekatan ‘laissez-faire’ terhadap regulasi AI. Tapi dilaporin presiden sekarang lagi mempertimbangkan pengawasan pemerintah atas rilis model AI. Beberapa tokoh progresif, seperti Senator Bernie Sanders dan Perwakilan Alexandria Ocasio-Cortez, udah usul tindakan seperti moratorium pembangunan pusat data nasional.
Sementara banyak pemilih Sabuk Kabel yang dicirikan Chakravorti cenderung condong ke Demokrat, ada pergeseran ke kanan dalam pemilu 2024. Dia bilang partai mana pun yang berhasil menawarkan rencana untuk investasi modal manusia yang lebih besar dan transisi menuju ekonomi berbasis AI yang mendukung para pekerja yang kecewa ini, bakal memegang kunci ke daerah-daerah pinggiran kritis ini di pemilu paruh waktu, dan di tahun 2028.
“Ada pelg untuk hanya mendapatkan 100.000 pergeseran suara itu di negara bagian penentu dan pemilu bisa, mulai berkembang dengan cara yang berbeda dari segi hasilnya.”
Tapi belom jelas sejauh mana AI bakal mempengaruhi pasar kerja. Beberapa perusahaan teknologi udah mengakui AI sebagai penyebab PHK baru-baru ini, tapi tingkat pengangguran di kalangan pekerja muda–mereka yang paling terancam oleh automatisi–turun jadi 7,6% dari angka tertinggi 9,2% pada September lalu.
Meski begitu, ada tanda-tanda kecil bahwa kiamat pekerjaan AI yang diperingatkan oleh para ekonom dan pemimpin bisnis bisa berubah menjadi kenyataan. Laporan pekerjaan April dari Biro Statistik Tenaga Kerja nunjukin penambahan 115.000 lapangan kerja lebih baik dari perkinian, tapi sektor kerah putih seperti aktivitas keuangan dan jasa informasi kehilangan hampir 24.000 peran secara bersama-sama.
Apapun yang terjadi, Chakravorti memprediksi bahwa hanya ancaman kehilangan pekerjaan saja bisa cukup buat memicu gelombang politik baru di seluruh daerah pinggiran Amerika.
“Ancaman itu harusnya cukup untuk mendorong orang-orang turun ke siangkarung kalaj mereka mulai menghubungkan titik-titiknya,” katanya.”