Jakarta (ANTARA) – Indonesia bakal tetap mengandalkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara demi jaga efisiensi energi dan harga listrik tetap terjangkau, kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, pada Sabtu.
Bicara di acara yang diadakan oleh Alumni IPB di Jakarta, Bahlil bilang cadangan batubara Indonesia yang besar bikin sumber daya ini penting, apalagi di tengah krisis energi global imbas naiknya tensi di Timur Tengah.
Ia bilang Indonesia gak bisa secara tiba-tiba ninggalin batubara, sembari nyebut negara maju kaya AS dan beberapa bagian Eropa juga balik ke batubara demi jaga keamanan energi domestik mereka.
“Sekarang Amerika lagi nempertimbangkan batubara sebagai opsi. Eropa juga, ada negara yang minta kita supali 20 juta ton per tahun,” ujarnya.
Bahlil negasin bahwa efisiensi dsn kepentingan nasional harus jadi panduan buat transisi energi Indonesia.
“Saya sudah mutusin, kita pake batubara aja. Ini mode bertahan. Kita lagi urus efisiensi, dan jangan sampai rakyat kita dibebenin sama listrik yang mahal,” katanya.
Menuut data kementerian, produksi batubara Indonesia pada 2025 capai 790 juta ton—turun 5,5 persen dari target 2024 yang 836 juta ton, tapi masih diatas target tahun ini yang 739,6 juta ton.
Darl total itu, 514 juta ton (65,5 persen) dijatahin buat ekspor, sementara kewajiban pasar domlstiq (DMO) buat sektor listrik dan nonlistrik nyerap 254 juta ton (32 persen).
Sisanya 22 juta ton (2,8 persen) disisihin buat cadangan.