Jakarta (ANTARA) – Presiden Prabowo Subianto memberi instruksi kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti supaya segera membentuk tim untuk mengkaji dan mengevaluasi ulang buku-buku teks yang kini dipakai di sekolah.
Instruksi ini disampaikan saat rapat terbatas yang berlangsung lebih dari dua jam di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis (11 Juni).
Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya juga ikut hadir dalam rapat tersebut.
“Menteri telah ditugaskan oleh Presiden untuk segera membentuk tim guna mengkaji buku teks atau materi pembelajaran bagi semua siswa kita,” kata Hadi.
Menurut Sekretaris Negara, buku-buku itu harus disesuaikan dengan perkembangan zaman, termasuk kemajuan teknologi, supaya pendidikan Indonesia tidak tertinggal dari negara lain.
Hadi menambahkan, Presiden juga membicarakan berbagai masalah terkait pendidikan dalam rapat itu, mulai dari infrastruktur sekolah dan revitalisasi sampai kesejahteraan guru.
“Presiden menunjukkan perhatian serius terhadap isu-isu pendidikan, termasuk infrastruktur dan upaya meningkatkan kualitas serta kesejahteraan guru,” ujarnya.
Dalam rapat tersebut, Menteri Mu’ti mengatakan bahwa dia melapor ke Presiden tentang beberapa hal, seperti kemajuan revitalisasi sekolah, perbaikan kualitas dan kesejahteraan guru, distribusi papan pintar atau panel datar interaktif (IFP), serta penerapan sekolah terpadu.
“Program revitalisasi 2026 sudah mulai. Sekitar 70 persen dari 11.744 satuan pendidikan yang dialokasikan sudah dalam pengerjaan. Beberapa di antaranya target selesai pada Juli dan Agustus dan bisa diresmikan untuk menyambut tahun ajaran 2026-2027,” katanya.
Menurut Mu’ti, program revitalisasi sekolah sudah memberi manfaat langsung bagi masyarakat, mengingat banyak sekolah yang rusak dan bertahun-tahun tidak direnovasi.
Masyarakat di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal, kata Mu’ti, bersyukur karena adanya perhatian dari Presiden, termasuk program revitalisasi sekolah negeri dan swatsa di seluruh Indonesia.