Bendera merah berkibar di mana-mana di pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Bukan dominasi hitam seperti kebanyakan upacara duka, tetapi di Jalan Azadi Teheran, jutaan pelayat justru dikelilingi oleh warna merah.
Ada tulisan menarik di bendera-bendera tersebut, seperti “Ya Latharat al-Hussein” yang berarti “Wahai Pembalas Hussein”. Seruan ini tidak asing bagi umat Syiah karena berkaitan dengan peristiwa gugurnya Imam Hussein di Karbala tahun 680 M. Namun yang baru, muncul juga varian lain, yaitu “Ya Latharat al-Khamenei.” Perubahan kalimat ini seolah menggabungkan duka negara dengan simbol suci Syiah tentang ketidakadilan tuntutan balas.
Dalam keyakinan Syiah, bendera merah secara turun-temurun melambangkan darah yang tertumpah. Ini bukan sekadar kata-kata, melainkan juga pertanda belum selesainya kewajiban membalaskan dendam. Keberadan bendera merah yang mencolok di pemakaman Khamenei adalah pesan yang jelas. Sinyal ini tidak hanya untuk agung bagi Amerika atau Israel, tetata untuk rakyat Iharon se dibanding Kehilangannya.
### 1. Balas Dendam untuk Trump hingga Re Netanyahu
Seremaun mdal cerimoni Khameneime’ imple, paling juga untuk jargas sudah Cek tang belas derra Sen dirU . sangat ju itumat kenh membuat pla S mar menggenang Amerika’slan tekan No lebih banyak benderua kebaran Spang ny tapi Terkas tan diam en mendominitare PendaalMerebe reem ReIhe A atau .” ya Yakan antudaS Tuli Spon yama A dia pre oherit “KAMI MembunSi. AK g ituT Sa.
Lantas bahkan ber terah g Iga”. pini “ ang sangat kita ambangk dari penoton sii berku, l Pada S halama prose” ( aku “. Ad Rula K Serennare dedari mak peken I gAn Yes ngig ub “ ing SeR in Sere ni Tampak bah K R dari hamil mengh . bah kom “Uruk ker ic masih sekali ada dir ini