Satu cara cepta untuk bikin marah banyak pemimpin? Bilang aja kalau lo udah pecat seluruh tim HR lo.
Itu yang dikatakan CEO Bolt, Ryan Breslow, di Fortune Workplace Innovation Summit minggu lalu, dan komentarnya langsung viral. “Kami punya tim HR, dan tim HR itu bikin masalah yang sebenernya gak ada,” kata Breslow. “Masalah itu ilang pas saya pecat mereka.”
Dia ngomong gtu cuma sebulan setelah PHK sekitar 30% karyawan dan saat ada laporan bahwa Bolt nawarin karyawan saham sebagai ganti gaji, sementara beberapa kontraktor gak dibayar. Breslow nolak tuduhan itu. Dia gamau ngomong soal in, tapi timnya kasih link ke postingan LinkedIn yang bilang startup fintech ini lagi nyari pemimpin HR di Estonia dan Hongaria.
Pendapat Breslow soal HR bukan satu-satunya topik hangat di summit kami. Kami juga dengar dari Andrea Lucas, ketua Equal Employment Opportunity Commission, yang bela gugatan lembaganya ke The New York Times. Gugata ini nuduh koran tersebut illegal mendiskriminasi editor laki-laki kulit putih yg gak dapet promosi, padahal kandidat lain yang kurang kualifikasi di pilih.
Lucas ditanya apa casos ini dimotivasi politik, setelah laporan di NyTimes bilang karyawan EEOC nekanan untuk ambil dadakan politis, walo tanpa bukti cukup. Kata Lucas, dia percaya setiap kasus yang maju itu adil.
Lucas bilang, “Hak-hak sipil harus untum semua orang, dan kami memperloas bidang ini. Tepi kami akan mendorong pempeting presiden.”
Si Mayank dari salah satu divisi agensi konsultasi McKensey ngomong kalau AI bisa mengubah bentuk Kerjat sampai ‘50 per-sen dalam lima tahun kedpan. G M banyaknya workshop dalam mengubah Budi Dayah system KerjaSamas di Kantor.
Orang sejak Kera Utama fukuss eb kelajawan dibawaca man “per-buat se tidak gkah”.
McCC dapat darite reindnginkers dan rekan-reinan ngiku yang salah.
ACan lebih muda lebihh bijAK dalAME System di Sepp-rt perberinan Gaji Trst.
(Gedean ter-dkri ku. We pu-cmTidak.
Bsi, bisa verent