Strategi Fiskal Indonesia Dapat Apresiasi Positif dari IMF, Bank Dunia, dan Lembaga Pemeringkat

Rabu, 15 April 2026 – 18:41 WIB

Jakarta, VIVA – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, melanjutkan agenda internasionalnya di Washington DC, Amerika Serikat (AS). Sebelumnya, dia sudah bertemu dengan sejumlah investor global di New York, termasuk perusahaan BlackRock.

Di Washington DC, Menkeu mengadakan berbagai pertemuan strategis. Mulai dari pertemuan bilateral sampai pertemuan sopan santun dengan berbagai pejabat setempat.

Di antaranya adalah dengan Managing Director International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva, pejabat tinggi World Bank, serta perwakilan dari lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global Ratings.

Dalam pertemuan-pertemuan tersebut, Purbaya menjelaskan komitmen Pemerintah Indonesia dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan APBN di tengah situasi global yang tidak pasti.

"Kami bertemu dengan 18 investor besar, seperti Goldman Sachs dan Fidelity Investments. Mereka ingin memahami arah kebijakan pertumbuhan dan pengelolaan anggaran Indonesia, serta menilai apakah strategi kita kredibel dan berkelanjutan," kata Purbaya dalam keterangannya, Rabu (15/4/2026).

Dia menjeleskan bahwa pemerintah telah menyampaikan berbagai kebijakan yang diambil secara komprehensif, termasuk dampaknya untuk anggaran negara dan pertumbuhan ekonomi.

Menurutnya, tanggapan dari IMF, Bank Dunia, dan lembaga pemeringkat sangat positif. Mereka terutama mengapresiasi kemampuan Indonesia dalam mendorong pertumbuhan ekonomi tanpa memberatkan kebijakan fiskal.

"Mereka menunjukkan antusiasme tinggi dan ingin tahu lebih dalam tentang fundamental ekonomi dan kebijakan kita. Selama ini mereka sering bertanya bagaimana Indonesia bisa tumbuh lebih cepat dengan anggaran yang tetap terjaga," ujar Purbaya.

Terkait minat investasi, Purbaya menyampaikan bahwa investor global, khususnya dari AS, sangat tertarik pada instrumen sektor keuangan, baik fixed income maupun equity.

"Ini sebagian besar adalah investasi portofolio, bukan investasi langsung (FDI). Tapi, kami optimis dalam waktu dekat dana-dana tersebut akan masuk dan ikut memperkuat pasar modal Indonesia," kata Purbaya.

MEMBACA  Puan, Rachmat Gobel, dan Cak Imin Meluncur ke IKN Setelah Sidang Tahunan

Dalam pertemuan dengan IMF, Kristalina Georgieva menyoroti bahwa ketidakpastian global masih akan berlanjut beberapa waktu ke depan. Hal ini dipicu oleh ketegangan geopolitik dan dinamika harga energi.

Menanggapi hal itu, Purbaya menekankan bahwa Indonesia memiliki kondisi fiskal yang solid dan cadangan anggaran yang memadai.

"IMF tidak punya wewenang untuk mengurangi ketidakpastian global, tetapi bisa memberikan dukungan untuk negara yang membutuhkan. Indonesia tidak termasuk, karena kondisi fiskal kita kuat dengan cadangan anggaran sekitar Rp 420 triliun," ujarnya.

Tinggalkan komentar