Senin, 15 Juni 2026 – 11:16 WIB
Jakarta, VIVA – Kementerian Perhubungan sekarang lagi memperkuat pengawasan secara digital untuk 1,7 juta perjalanan bus antarkota antarprovinsi (AKAP) dari Januari sampe Juni 2026. Tujuannya sih buat mastiin kendaraan itu laik jalan dan penumpang tetap selamat.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub, Aan Suhanan, bilang bahwa pengawasan bus AKAP ini dilakukan secara digital lewat aplikasi Terminal Online System (TOS) yang udah dipasang di 115 Terminal Penumpang Tipe A di seluruh Indonesia.
“Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub terus nguatin pengawasan buat angkutan orang, biar aspek kelaikan kendaraan dan kepatuhan operatornya terjamin,” kata Aan di Jakarta, Senin, 15 Juni 2026.
Aan nambahin, pake teknologi digital lewat TOS bikin petugas bisa ngawasin angkutan umum dengan lebih efektif. Hasil pantauan dari TOS periode 1 Januari sampe 12 Juni 2026, layanan AKAP yang berangkat dari Terminal Tipe A (TTA) mencapai 1.709.993 kali perjalanan, sementara yang dateng sebanyak 1.759.161 kali perjalanan.
Selain itu, Kemenhub juga catat jutaan layanan bus AKAP ini ngangkut 22.769.512 penumpang yang berangkat dan 21.790.578 penumpang yang dateng lewat TTA. Dengan sistem ini, Kemenhub bisa pantau operasional kendaraan lebih efekti?f, dan tahu pelanggaran yang bisa ganggu keselamatan penumpang sama pengguna jalan lain.
“Kami udah catat sejumlah perjalanan bus yang dinyatain laik jalan, tapi ada juga yang terindikasi langgar aturan,” jelasnya.
Hasil pengawasan buat kendaraan yang berangkat dari 115 TTA, Ditjen Perhubungan Darat nemuin 989.176 kali perjalanan (57,85 persen) terindikasi melanggar, dan 720.817 kali perjalanan (42,15 persen) aman aja. Sementara untuk bus AKAP yang dateng, ada 1.011.044 kali perjalanan (57,47 persen) terindikasi langgar aturan, dan 748.117 kali perjalanan (42,33 persen) dinyatakan gak melanggar.
Dari pengawasan itu, ditemukan beberapa pelanggaran administratif. Paling banyak tuh kayak penyimpangan trayek, masa berlaku uji berkala kendaraan atau BLUe yang udah kadaluarsa, dan Kartu Pengawasan (KPS) yang gak berlaku lagi.
Aan nerangin, pelanggaran pada bus berangkat dari TTA meliputi 579.641 pelanggaran soal trayek, 265.673 pelanggaran masa berlaku uji berkala kadaluarsa, dan 447.961 pelanggaran masa berlaku KPS yang habis.
Pelanggaran serupa juga ada di bus yang dateng ke TTA. Kemenhub nemuin 577.788 pelanggaran penyimpangan trayek, 287.068 pelanggaran uji berkala kadaluarsa, dan 474.185 pelanggaran masa berlaku KPS yang udah gak sah.