Lulusan SMA yang Sukses Raih Gaji Ratusan Juta di OpenAI dan Bagikan Strategi Menaklukkan Silicon Valley bagi Gen Z

Masa kecil Gabriel Petersson mirip sama anak Gen Z lain: ngumpulin kartu Pokemon dan bangun dunia di Minecraft. Saat itu, dia belum mikirin kuliah atau karir.

Tapi waktu SMA di kota kecil Swedia, dia jadi lebih penasaran bagaimana game itu bekerja. Ini bikin dia tertarik sama startup, software, dan AI. Dia pikir ini adalah perubahan teknologi besar berikutnya.

Daripada selesaikan SMA dan kuliah jurusan komputer, Petersson malah putus sekolah di umur 17 tahun. Dia dirikan Depict.ai, startup data e-commerce, bareng temen-temannya.

Lima tahun kemudian, usahanya berhasil. Di umur 22, dia dapat gaji besar di OpenAI sebagai peneliti. Dia sekarang jadi pendukung ide sederhana: kesenjangan ijazah bisa ditutup jika kamu mau tunjukkan kemampuanmu.

### Bagaimana seseorang di umur 20-an dapat kerja di Silicon Valley—tanpa gelar

Dapat kerja di perusahaan top Silicon Valley tanpa gelar butuh strategi khusus. Bagi Petersson, kuncinya adalah membuktikan kamu bisa melakukan pekerjaan itu sebelum diminta CV.

Setelah dari Depict.ai, dia gabung startup AI Dataland dan pindah ke New York. Semua berjalan baik sampai dia berkunjung ke San Francisco.

“Saya masih ingat minggu pertama,” kata Petersson. “Saya tidak bisa tidur… di mana-mana orang bahas pemrograman dan startup. Saya sangat terkesan.”

Kunjungan itu mengubah ambisinya. Tantangannya adalah bagaimana bersaing dengan lulusan universitas ternama. Jawabannya: berhenti bersaing di ijazah, dan bersaing di bukti.

Dia buat strategi langsung menghubungi perusahaan. Caranya: perkenalkan diri singkat, tunjukkan ketertarikan pada perusahaan, dan yang paling penting—tunjukkan proyek yang kamu buat khusus untuk mereka.

“Kamu bisa bilang, ‘Saya sangat tertarik dengan perusahaan Anda sampai-sampai saya buat website untuk ide yang Anda kerjakan’,” ujarnya. “Dengan cara ini saya bisa buktikan semuanya tanpa bersaing dengan orang lain.”

MEMBACA  Analisis BBC: Kehangatan dan Saling Berpegangan Tangan pada KTT Xi, Modi, dan Putin

Strategi ini membantunya dapat kerja di Dataland, lalu dia coba lagi di Midjourney. Saat itu, aplikasi lamannya di OpenAI ditolak.

Jadi, dia fokus penuh selama seminggu kerja 16 jam per hari untuk buat website khusus buat Midjourney, lalu kirimkan demo videonya. Usahanya berhasil dan Midjourney mempekerjakannya sebagai software engineer di tahun 2023.

“Ketika saya buat video demo produk, saya tunjukkan pemahaman dan kemampuan sosial saya. Mereka bisa lihat orang ini masuk akal,” tambah Petersson. “Saya penuhi lebih banyak kriteria daripada dengan cara lain.”

Pekerjaan di Midjourney membuka pintu berikutnya. Seorang teman menghubungkannya dengan tim riset OpenAI—perusahaan yang sama yang menolaknya setahun sebelumnya. Kali ini, dia siap. Dia dapat posisinya di Desember 2024. Ini adalah pelajaran tentang kekuatan mencoba lagi untuk peluang yang kamu tahu bisa kamu lakukan.

### Gen Z bisa dapat pekerjaan impian—dengan pola pikir yang benar, menurut Petersson

Bagi Petersson, pengalaman di Midjourney dan OpenAI membuktikan sesuatu yang sekarang dia bagi ke anak muda: karir elit tidak hanya untuk orang-orang tertentu. Bahkan pekerja di perusahaan paling kuat sekalipun tidak semenjauh kelihatannya.

“Siapa pun bisa bersaing jika kamu menempatkan diri di situasi dan hal yang tepat,” kata Petersson.

Banyak profesional muda terjebak dengan menahan diri, contohnya dengan terlalu lama di satu pekerjaan. Petersson, yang sudah kerja di hampir setengah lusin perusahaan sebelum umur 23, pikir karir awal harus dioptimalkan untuk kecepatan belajar, bukan kestabilan.

Di saat banyak anak muda masuk dunia kerja dan khawatir AI akan mengambil pekerjaan mereka, Petersson yakin masih banyak peluang bagi mereka yang mau memeluk teknologi ini, bukan takut.

MEMBACA  Saham Energi Terbaik untuk Menginvestasikan $1,000 Saat Ini

Dan setelah kerja di industri teknologi, dia tunjukkan bahwa bahkan orang-orang pintar pun “tidak tahu semua jawabannya.”

Tinggalkan komentar