Mira Murati masih berniat untuk membangun kecerdasan buatan super. Tetapi mantan CTO OpenAI ini melihat kecerdasan manusia sebagai bagian krusial dari persamaan tersebut.
Di tengah kekhawatiran yang meningkat tentang AI yang menggantikan pekerjaan dan memperkuat kekuasaan segelintir perusahaan besar, startup Murati, Thinking Machines Lab, menawarkan visi yang sangat berbeda tentang teknologi ini.
“Pada suatu titik kita akan memiliki mesin yang super-cerdas,” kata Murati kepada WIRED. “Tetapi kami berpikir bahwa cara terbaik untuk benar-benar memiliki banyak kemungkinan masa depan—masa depan yang baik—adalah dengan tetap melibatkan manusia dalam prosesnya.”
Murati berpendapat bahwa AI tidak perlu mengotomatiskan manusia keluar dari persamaan. Pendekatan yang lebih optimistis, menurutnya, adalah membiarkan orang membangun dan menyesuaikan model-model AI canggih mereka sendiri, kemudian bekerja sama dengan model-model tersebut untuk mencapai tujuan mereka.
Minggu ini, Thinking Machines memperlihatkan sebuah jenis model AI baru yang menurut mereka mengarah pada realitas yang lebih inklusif bagi manusia. Model “interaksi” perusahaan ini dilatih untuk berkomunikasi dengan seseorang melalui kamera dan mikrofon. Tidak seperti banyak antarmuka suara yang sudah ada, model baru ini tidak hanya merekam dan mentranskripsi ucapan, lalu memasukannya ke dalam model bahasa yang memprosesnya dengan cara yang sama seperti chatbot. Model interaksi ini secara alami memahami komunikasi manusia yang berkelanjutan dan tidak rapi—artinya mereka lebih mampu menangkap makna dari jeda, interupsi, dan perubahan nada. Hal ini memungkinkan mereka untuk beradaptasi secara cepat ketika seseorang mengklarifikasi suatu poin atau mengubah topik. Perusahaan ini memamerkan beberapa video yang mendemonstrasikan kemampuan ini, meskipun model-model tersebut belum dirilis ke publik.
Pendekatan Murati kontras dengan bagaimana sebagian besar perusahaan AI besar tampaknya mengejar superinteligensi saat ini. OpenAI, Anthropic, Google mengembangkan model besar yang melakukan pekerjaan semakin kompleks, termasuk menulis seluruh aplikasi perangkat lunak dari awal, hanya melalui perintah teks. Hal ini membutuhkan sedikit bantuan dari manusia.
Thinking Machines bukan satu-satunya startup yang membayangkan masa depan yang lebih inklusif bagi manusia. Lab lain, termasuk Humans&, juga bertujuan mengembangkan sistem AI yang mengutamakan kolaborasi manusia. Beberapa ekonom terkemuka telah menyerukan agar para peneliti dan perusahaan AI membangun sistem dengan cara ini, berfokus pada pemberdayaan manusia daripada penggantian.
Pada tahun 2024, Murati meninggalkan perannya sebagai kepala petugas teknologi OpenAI, lalu mendirikan Thinking Machines bersama beberapa insinyur terkemuka. Thinking Machines telah mengumpulkan miliaran dolar untuk membangun AI kelas atas.
Namun, sejauh ini perusahaan hanya merilis satu produk. Tinker, yang diluncurkan pada Oktober 2025, memungkinkan penyempurnaan model AI kelas atas menggunakan data khusus. Saat ini, tersedia sebagai API yang dapat digunakan peneliti dan insinyur untuk menyempurnakan model sumber terbuka.
Alexander Kirillov, anggota tim pendiri Thinking Machines dan ahli AI multimodal, yang berarti model yang menangani audio dan video serta teks, mengatakan model interaksi baru lab ini juga berpotensi memungkinkan AI yang lebih disesuaakan dan personal.
“Model ini terus-menerus memahami apa yang Anda lakukan dan selalu ada untuk dapat menjawab serta memberi Anda informasi atau mencari informasi atau menggunakan alat lain,” kata Kirillov. “Ini adalah sesuatu yang tidak dapat dilakukan [saat ini]model lain. Giliran [dalam percakapan] ditentukan oleh sistem yang jauh lebih cerdas tingkatan.”
Mira mengatakan bahwa ini semua adalah bagian dari visi AI yang lebih besar.
“Ini menunjukkan pertaruhan pertama pada kolabarasi manusia,” jelasnya. “Ke mana arah ini adalah benar-benar memperkuat prefensi dan nilai-nilai orang itu sendiri, dengan AI yang benar-benar memahami niat dan memprediksi niatan.”