Ekonomi Iran udah berantakan bahkan sebelum Amerika sama Israel mulai perang melawan republik Islam itu. Menurut berita-berita, pengeboman terus-terusan sejak itu udah dorong rezimnya ke ambang kehancuran.
Sebelum perang, inflasi tinggi dan runtuhnya nilai mata uang picu protes besar-besaran yang bikin pemerintah tindak keras. Tapi sekarang, dengan pabrik-pabrik, fasilitas energi, jembatan, dan rel kereta api hancur — banyak orang Iran jadi nganggur — keadaan jadi makin parah.
Sejak perang mulai, nilai rial jatuh 8% terhadap dolar di pasar gelap, kata The Economist. Itu terjadi setelah mata uangnya udah hilang 60% nilainya dalam bulan-bulan setelah perang 12 hari melawan Israel pada Juni tahun lalu.
Sementara itu, harga udah naik 6% selama perang sekarang, berdasarkan data bank sentral yang dikutip The Economist. Sebelumnya, inflasi makanan meloncat ke tingkat tahunan 64% di Oktober, lalu makin cepat ke 105% pada Februari, yang dorong inflasi keseluruhan ke 47,5% di hari-hari jelang perang.
Inflasi tinggi memaksa bank sentral bulan lalu terbitkan pecahan uang terbesar mereka, uang kertas 10 juta rial, cuma sebulan setelah uang 5 juta rial diedarkan.
Tapi data resmi mungkin meremehkan parahnya inflasi. Warga Tehran dan kota lain bilang ke Reuters bahwa beberapa harga udah melonjak sekitar 40% sejak perang mulai enam minggu lalu.
Seorang dalam dekat pemerintahan Iran bilang para pejabat anggap ekonomi sebagai titik lemah negara itu, kata laporannya. Pemerintah khawatir bakal ada kerusuhan lagi.
Kegagalan capai kesepakatan gencatan senjata dengan Amerika di akhir pekan lalu hancurkan harapan untuk keringanan sanksi atau pembebasan aset Iran yang dibekukan di luar negeri.
Tanpa masuknya dana, pihak berwenang bakal susah bayar gaji, yang pada akhirnya ancam kemampuan rezim buat memerintah Iran, kata sumber dalam itu ke Reuters. Perang udah tegangkan sumber daya keuangan mereka, karena mereka mensubsidi orang-orang yang minggat dari rumahnya sambil juga bayar perbaikan darurat buat infrastruktur.
Pejabat Iran bilang negara itu “akan hadapi bencana” kalau sanksi nggak dicabut, karena pabrik industri terbesar yang menggerakkan ekonomi perlu waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun buat diperbaiki, menurut Reuters.
Seorang wanita muda Iran berdiri di luar restoran makanan cepat saji kecil di pusat kota Tehran, Iran, pada 11 April 2026.
Morteza Nikoubazl/NurPhoto via Getty Images
Di atas semua masalah ekonomi itu, rencana Presiden Donald Trump buat terapkan blokade angkatan laut di Selat Hormuz bisa putuskan sumber uang utama Iran.
Pendapatan dari ekspor minyak tahun lalu diperkirakan bernilai setidaknya $30 miliar. Dan produk energi menyumbang sekitar seperempat dari pendapatan pemerintah pada 2023, menurut Washington Institute.
Sementara itu, Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC), yang memimpin respons militer Iran terhadap perang Amerika dan penindasan dalam negeri, mengolah sekitar setengah dari ekspor minyak negara itu dan berpeluang dapetin miliaran dolar dari biaya yang dikenakan pada kapal-kapal yang mau lewat selat itu.
Tapi blokade angkatan laut Amerika bakal ancam sumber daya keuangan IRGC dan lebih melemahkan ekonomi secara keseluruhan.
Dan Alamariu, kepala strategis geopolitik di Alpine Macro, bilang dalam catatan hari Jumat bahwa salah urus ekonomi di Iran itu sangat dalam, dan tambahin bahwa korupsi sistemik adalah fitur perlu yang memberi imbalan pada pendukung setia.
“Buat bertahan, rezim Iran perlu reformasi (yang nggak mampu mereka lakukan) atau ekspor ketidakstabilan ke luar negeri lewat proxy dan dorongan proliferasi misil dan nuklir (yang undang konflik lebih lanjut),” tulisnya. “Tanpa ini, kemungkinan bakal jatuh, meski waktunya mungkin masih 1-3 tahun lagi. Iran mungkin rezim paling tidak stabil di antara negara berkembang besar, kalau lihat dua ukuran ketidakstabilan rezim (ketidakabsahan dan penderitaan pemuda).”