Edwards Lifesciences naikan target pertumbuahan full-year 2026 jadi antara 9% sampe 11%, naik dari sebelumnya 8% sampe 10%, karena kinerja Q1 lebih bagus dari yang mereka harapin.
Perusahan medtech besar ini lapor pendapatan sekitar $1,65 miliar di Q1, didorong oleh pertumbuhan dua digit yang stabil di semua portofolio. Dengan kenaikan persentase untuk full-year, Edwards sekarang perkirakan penjualan $6,5 miliar sampe $6,9 miliar, dengan pendapatan diperkirakan antara $2,95 sampe $3,05 per saham, naik dari $2,90 sampe $3,05 sebelumnya.
Edwards rilis hasil Q1 setelah pasar tutup pada 23 April. Saham perusahan ini di NYSE, update jam 12 siang BST tanggal 24 April, naik lebih dari 2% ke $81,51, dibanding $79,72 saat pasar tutup hari sebelumnya.
Bisnis katup aorta transcatheter (TAVR) Edwards dapet sebagian besar penjualan kuartal ini sekitar $1,2 miliar, dengan tingkat pertumbuhan 14,4% year-over-year (YoY).
Analisis GlobalData tunjukin bahwa pasar TAVR diproyeksikan capai valuasi $14,9 miliar di 2034, naik dari $6,8 miliar di 2024. Data lain dari GlobalData nunjukin Edwards saat ini pegang pendapatan $4,53 miliar di bidang TAVR, dengan pangsa pasar AS lebih dari 60%.
Di bagian bisnis lain, Edwards lapor pertumbuhan 10,1% di portofolio bedahnya, jadi $276,2 juta. Selain itu, meskipun segmen terapi mitral dan trikuspid transcatheter Edwards jadi penyumbang pendapatan paling kecil, yaitu $175,1 juta, segmen ini alami pertumbuhan paling signifikan, yaitu 59,9% YoY.
Bernard Zovighian, CEO Edwards, bilang: “Membangun tahun 2025 yang ditandai dengan kinerja keuangan yang solid dan kemajuan strategis, kita udah hasilkan satu kuartal kuat lagi di Q1, raih pertumbuhan penjualan 12,7%, yang mencerminan dampak dan ketahanan strategi fokus kita. Kita tetap berdedikasi untuk selesaikin masalah pasien yang besar, mendesak, dan kompleks, serta cari peluang unik untuk berinovasi dan memimpin dalam penyakit jantung struktural.”
Pesaing medtech lain, Boston Scientific, juga rilis keuangan Q1 minggu ini. Sementara perusahannya lapor kinerja Q1 yang stabil, beda sama Edwards, mereka pilih untuk nurunin prospek pertumbuhan full-year sebelumnya, dengan alasan banyaknya pihak baru sehingga pasar tetap sengit