Aku menyaksikan ayahku menjalankan bisnisnya kala Perang Sipil Lebanon berkecamuk. Inilah pelajaran tentang kepemimpinan di tengah hiruk-pikuk kekacauan.

Selama liburan sekolah, saya habiskan sebagian besar waktu di kantor ayah saya di Beirut. Sementara anak-anak lain pergi ke pantai atau gunung, saya lihat dia menjalankan usahanya di tengah perang saudara terpanjang abad ke-20.

Ayah saya tidak berhenti kerja meski kota kami dibom. Dia tidak berhenti bayar karyawan meski bank tutup. Dia tidak berhenti tepati janji meski kontrak secara hukum tidak bisa dipaksakan. Dia tetap pergi kerja dan bawa saya. Setiap pagi saya lihat dia cek apa yang masih berjalan: pemasok mana yang masih buka, pelanggan mana yang bisa dihubungi, asumsi minggu lalu mana yang masih berlaku. Dia buat keputusan harian berdasarkan penilaian baru itu, bukan rencana yang udah kadaluwarsa.

Dia punya dua prinsip: dia tidak pura-pura sistem berjalan padahal tidak — tapi juga tidak berhenti kerja hanya karena sistem tidak berjalan. Dia pegang dua kenyataan ini sekaligus, dan pilih arah setiap hari selama perang 15 tahun itu. Saya tidak meromantisir pelajaran ini — tidak ada pelajaran yang setimpal dengan harganya — tapi saya tetap belajar, dan ini bentuk setiap bisnis yang saya dirikan sejak itu.

Sebagai pengacara muda, saya kerja dengan Menteri Utama Lebanon yang telah almarhum, Rafik Hariri, sebagai Wakil Ketua Eksekutif Otoritas Investasi Lebanon (IDAL). Lihat langsung kekuatan kepemimpinannya yang kuat dan ubah negara ini. Saya bawa ini ke Majid Al Futtaim, tempat saya menghabiskan dua dekade dengan dua prinsip tadi. Sebagai CEO, saya bantu bangun pusat perbelanjaan di Dubai jadi perusahaan senilai $15 miliar, di bidang properti, ritel, dan hiburan, yang beroperasi dari Afrika Timur sampai Asia Tengah. Saat ingin tulis perjalanan ini, refleks kita adalah buat cerita rapi padahal sebenarnya itu serangkaian keputusan dengan informasi yang tidak lengkap.

MEMBACA  Nasdaq Nordic Lanjutkan Perdagangan Setelah Ganggua Picu Pembatalan Pesanan

Tidak ada rencana besar. Hanya prinsip yang jalankan dengan disiplin. Kami menyisakan banyak peluang yang tidak cocok. Kami serius bukan cuma loyal pada bakat dan prestasi, tapi juga pada Arab di masa banyak orang bilang kita terlalu kacau, kecil, ribet untuk sabar. Kami tahu kami bukan melulu bisnis tokok meter persegi, tapi bisnis kepercayaan dengan seluruh rekan, dan kepercayaan itu seperti item di buku besar, meski akuntan tidak pernah hitung. Kami tahu modal ikut bakat, bukan sebaliknya, dan perusahaan sukses adalah yang punya orang jago pakai modal pintar di situasi berubah. Kami bedakan reseliensi dari efisiensi: perusahaan efisien batasi ongkos per hasil, yang ulet batasi risiko gagal parah. Bos yang lebih baik tahu ke mana mereka optimalkan produksinya.

Sayatulisin iini krn setiap berg peusahaan-perusahaan rekel karuub sayayatS bukan sayaperang. perakaTugas suatu situ dibam (Be yan tepat dari saya uayatu. Ba wBole permbas, sam pandans untuk; Indonesia.. tetppi tetap membaca vers bahasa di foto ini sebagai mana biaskean setalah inggot disabilitasi proses pan. Sam ban kecil lebih lampis saratkna teed`;; selalu koin penting mereka dirikala tanpa hi). Engga mungkin

Engusaha perakaTeg jawab bankatawn-s untuk memperinci selain gambar? Yangam bil tersetma.”}’ karena sistem p teknik tidak secara cara muda mening su re akan tinggi deng perm tauhu ren masih secara teken tip pembat tatih idum sana???m inB ikon saja adalah sesuatu. Wa alo saya jala teguh program memb me program dengan to menjaw sesuai ( n f kita alat mungkin ). U sem pola adon , rest sedikit jom perkeb

Tinggalkan komentar