loading…
Dr Selamat Ginting, Analis Politik dan Militer Universitas Nasional (UNAS). Foto: Dok Sindonews
Dr Selamat Ginting
Analis Politik dan Militer Universitas Nasional (UNAS)
PENDAHULUAN
Rangkaian pertemuan para elit keamanan dalam beberapa waktu terakhir ini gak bisa dibaca sebagai agenda rutin biasa. Ketika Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin ngumpulin Panglima TNI, Wakil Panglima TNI, para Kepala Staf Angkatan, dan juga purnawirawan bintang empat, termasuk mantan Panglima TNI dan Kepala Staf Angkatan.
Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto manggil tokoh-tokoh kunci semacem Luhut Binsar Panjaitan, Dudung Abdurachman, sampe Kapolri Listyo Sigit Prabowo. Jadi yang sebenarnya terjadi itu adalah konsolidasi strategis.
Pertanyaannya: konsolidasi buat apa? Jawaban paling sederhana ya stabilitas. Tapi publik tentu gak bakal puas cuma dengan jawaban sesimpel itu.
Cegah Loyalitas Ganda
Dalam politik dan militir, langkah yang keliatan sepele seringkali nyimpen pesan yang lebih rumit. Konsolidasi lintas generasi—yang aktif dan purnawirawan—nunjukin kalo negara gak mau ambil resiko sedikit pun terhadap kemungkinan fragmentasi di tubuh elit keamanan.
Dalam sejarah Indonesia, stabilitas politik selalu berhubungan erat dengan soliditas militer dan kepolisian. Makanya, merangkul semua poros kekuatan bukan sekedar pilihan, tapi kebutuhan.
Di sisi lain, kehadiran para jenderal purnawirawan bukan cuma simbol kehormatan. Mereka adalah simpul jaringan, penjaga memori institusional, sekaligus figur dengan pengaruh yang masih hidup di dalem organisasi.