Selasa, 14 April 2026 – 14:54 WIB
Menteri Perminyakan Iran, Mohsen Paknejad, mengklaim penjualan minyak negaranya sejak perang mulai tetap berjalan bagus dan memberikan untung. Pernyataan ini disampaikan pada Selasa dan dikutip dari kantor berita Fars News Agency.
Paknejad menjelaskan bahwa hasil penjualan minyak pada bulan Esfand dan Farvardin—dua bulan dalam kalender Iran dari akhir Februari hingga akhir April—dikatakan memuaskan. Dia menambahkan, sebagian dari pemasukan itu akan dipakai untuk membangun kembali sektor energi nasional yang terdampak perang.
Menurut dia, alokasi dana dari penjualan minyak harus dioptimalkan dan diprioritaskan untuk pemulihan infrastruktur energi, seperti kilang, pipa, tempat penyimpanan, dan terminal ekspor yang rusak selama serangan.
Pernyataan ini dianggap mencerminkan ketahanan ekonomi Iran di tengah sanksi Amerika Serikat dan masalah distribusi energi di kawasan. Sejak serangan yang diduga melibatkan AS dan Israel tanggal 28 Februari lalu, jalur ekspor energi Iran mengalami tekanan, termasuk gangguan di Selat Hormuz.
Meskipun jumlah ekspor terdampak, kenaikan harga minyak dunia selama konflik disebut ikut menaikkan nilai setiap barel minyak yang berhasil dijual Iran. Berdasarkan laporan OPEC, harga rata-rata minyak Brent pada Maret mencapai 99,60 dolar AS per barel, naik signifikan dari rata-rata sebelum perang. Harga acuan OPEC bahkan mencapai 116,36 dolar AS per barel pada periode yang sama.
Kondisi ini membuat setiap barel minyak yang berhasil diekspor Iran—termasuk ke Tiongkok dan lewat perdagangan dengan negara sahabat—memberi pemasukan lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik.
Paknejad menekankan bahwa rencana penggunaan pendapatan minyak untuk rekonstruksi sektor energi menunjukan kesiapan Iran menghadapi masa pascaperang. Dia menyiratkan keyakinan bahwa Iran akan tetap mengendalikan sumber daya energinya dan punya kemampuan finansial untuk perbaiki kerusakan.
Sementara itu, Duta Besar Iran untuk India juga sebelumnya menyatakan bahwa Teheran siap jual minyak ke negara mana pun yang berminat. Pernyataan Paknejad memperkuat sinyal bahwa ekspor minyak Iran tetap berjalan di tengah konflik dan sanksi.
Situasi ini juga jadi perhatian bagi Amerika Serikat, yang disebut sedang pertimbangkan langkah tambahan untuk batasi pendapatan minyak Iran. Di sisi lain, bagi India, ketersediaan minyak Iran di pasar global membuka pilihan pasokan, tapi harus pertimbangkan risiko sanksi jika beli dalam jumlah besar.