42% Anak Indonesia Alami Kekerasan: Strategi Perlindungan di Tengah Era yang Semakin Kompleks

Selasa, 21 April 2026 – 19:36 WIB

Jakarta, VIVA – Perlindungan anak adalah isu yang sangat penting di kehidupan modern yang semakin rumit. Dengan perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang cepat, anak-anak di Indonesia masih menghadapi banyak bahaya yang mengancam keselamatan dan kesejahteraan mereka.

Data dari program PRIME yang dijalankan ChildFund International pada tahun 2023–2025 menunjukkan bahwa 42% anak mengalami kekerasan di lingkungan rumah. Angka ini mengingatkan kita bahwa tempat yang seharusnya paling aman justru bisa jadi berbahaya. Yuk, scroll untuk baca lebih lanjut!

Tantangan tidak hanya di dunia nyata, tapi juga di dunia digital. Sebanyak 28,9% anak menghadapi risiko di dunia maya, seperti cyberbullying, grooming online, sampai kekerasan berbasis gender yang memanfaatkan teknologi.

Kondisi ini membuktikan bahwa perlindungan anak harus dilakukan baik di dunia nyata (luring) maupun dunia online (daring). Untungnya, upaya untuk memperkuat sistem perlindungan anak terus berjalan. Sudah ada lebih dari 595 komite perlindungan anak berbasis komunitas, 106 desa punya mekanisme pencegahan, 40 sekolah punya tim anti-kekerasan, dan 29 institusi mengadopsi kebijakan safeguarding.

Sayangnya, efektivitasnya masih jadi masalah. Hanya 35,4% masyarakat yang hidup dalam komunitas dengan sistem perlindungan yang berfungsi baik, dan cuma 6,8% anak yang merasa sistem itu benar-benar melindungi mereka.

“Kita sudah berhasil membangun rumahnya, tapi pintunya belum terbuka bagi mereka yang paling butuh,” kata Husnul Maad, Country Director ChildFund International di Indonesia, dalam sambutan forum di Jakarta.

Dari sudut pandang gaya hidup, perlindungan anak bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi juga tanggung jawab kita semua dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua, keluarga, dan komunitas punya peran besar untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi anak. Ini termasuk komunikasi yang terbuka, pengawasan yang tepat, dan edukasi tentang risiko di dunia nyata maupun digital.

MEMBACA  Judul: Zlatan Ibrahimović Nikmati Liburan Spiritual di Bali, Dapat Sambutan Hangat dari Netizen Indonesia

Direktur Rehabilitasi Sosial Anak di Kementerian Sosial, MK Agung Suhartoyo, menekankan pentingnya pendekatan yang lengkap. “Dalam konteks ini, perlindungan anak harus dilakukan secara menyeluruh. Tidak hanya fokus pada menangani kasus, tapi juga termasuk upaya pencegahan, memperkuat keluarga, dan membangun sistem yang responsif serta berkelanjutan,” ujarnya.

Selain itu, literasi digital adalah kunci penting di gaya hidup modern. Walaupun kesadaran anak terhadap risiko digital mulai naik, hanya 29,6% yang punya keterampilan yang cukup untuk melindungi diri sendiri. Makanya, edukasi digital harus jadi bagian dari kegiatan sehari-hari, baik di rumah maupun di sekolah.

Tinggalkan komentar