Persaingan antara Amerika Serikat dan China di bidang kecerdasan buatan dan manufaktur canggih semakin ketat. Pendiri Anduril, Palmer Luckey, mengatakan pertarungan sebenarnya bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal siapa yang mendidik murid-murid terbaik di dunia.
Menurut Luckey, kini universitas-universitas Amerika sudah mulai melupakan pengajaran keterampilan praktis. Hal ini membuat China punya keunggulan yang lebih dari sekadar tenaga kerja murah.
Luckey bilang, perusahaan-perusahaan Amerika sudah kehilangan kemampuan atau “hollowed out”. Ini karena perusahaan-perusahaan tersebut memberi ide yang salah ke kampus tentang apa yang harus diajarkan ke mahasiswa.
“Pada dasarnya, kita tidak lagi mengajar insinyur cara menjadi insinyur,” kata Luckey dalam wawancara dengan Hoover Institution.
Dia menambahkan bahwa China kini punya banyak ahli teknik baterai, metallurgi, dan optik terbaik di dunia. Sebaliknya, Amerika malah melatih orang menjadi apa yang ia sebut “arsitek ruang angkasa”.
“Kami tidak mengajar desainer cara mendesain barang yang benar-benar bisa diproduksi,” katanya. “Kami hanya mengajari mereka membuat paket desain tingkat tinggi, lalu dikirim ke insinyur sungguhan di China—dan mereka yang menyelesaikan pekerjaannya.”
Luckey mencontohkan Apple sebagai gambaran perubahan ini. “Dulu Apple harus memikirkan cara bikin produk mereka sendiri. Sekarang, sebagian besar kerja keras dilakukan oleh insinyur China.”
Memang Apple masih mendesain produk di Cupertino, California, tapi sangat bergantung pada mitra manufaktur di China. Namun Luckey tetap mengakui Amerika masih unggul dalam satu hal: menciptakan pengusaha yang berani mengejar ide-ide tak biasa.
“Sistem pendidikan China tidak banyak menghasilkan ‘ratu lebah’, tapi banyak menghasilkan ‘lebah pekerja’,” katanya.
Luckey sendiri adalah contoh nyata. Ia keluar dari kuliah di usia 19 tahun, lalu membangun startup VR bernama Oculus. Sekarang kekayaannya mencapai $5 miliar.
“Coba bayangkan di China. Saya dulu anak 19 tahun kerja dengan upah minimum, tinggal di trailer kemping, lalu Peter Thiel memberi saya satu juta dolar untuk memulai Oculus—itu tidak akan terjadi di China,” katanya.
Dia menjual Oculus ke Facebook seharga $2 miliar di usia 21. Tiga tahun kemudian, dia mendirikan Anduril yang kini bernilai $61 miliar.
Kekhawatiran Luckey bukan satu-satunya. CEO Pfizer, Albert Bourla, juga memperingatkan bahwa universitas Barat tertinggal dari China dalam hal riset ilmiah. “Segalanya di China—kecepatannya tiga kali lipat, biayanya setengah,” katanya.
Berdasarkan Nature Index, pada 2020 Amerika dan Eropa mendominasi 10 besar institusi riset. Kini, sembilan dari 10 posisi diisi oleh institusi China. “Saya pikir mereka belum setara dengan AS, tapi sudah sangat dekat,” ujar Bourla.
China juga secara sengaja mengubah sistem pendidikan mereka. Antara 2021 hingga 2025, mereka menghapus sekitar 12.200 program sarjana, terutama di bidang humaniora, bahasa asing, dan manajemen. Sekitar 10.200 program baru diperkenalkan, kebanyakan di bidang AI, robotik, dan teknik semikonduktor.
Bahkan di tingkat SD dan SMP, China sudah mengajarkan AI setiap tahun ajaran—mulai dari penggunaan chatbot hingga etika AI. Ini menurut eksekutif Walmart membuat Amerika tidak boleh mengabaikannya.
“Anak usia lima tahun di China belajar DeepSeek. Itu menunjukkan betapa mereka serius membangun kemampuan,” kata chief people officer Walmart. “Apa yang akan terjadi pada ekonomi AS jika kita semua ikut serta dalam peluang itu?” Presiden baru Amerika Serikat sudah resmi menjabat. Beliau menggantikan presiden sebelumnya setelah pemilihan umum. Dalam pidato pertamanya, beliau mengatakan akan fokus untuk mempersatukan rakyat dan membangun kembali ekonomi. Banyak orang mengharapkan perubahan dalam kebijakan perdagangan, imigrasi, dan perubahan iklim. Pemerintahan baru juga akan menghadapi beberapa tantangan seperti pandemi dan perbedaan pendapat di masyarakat.