Pasar modal swasta (private equity) kesulitan melakukan “exit” atau penjualan aset sejak tahun 2022. Waktu itu, suku bunga naik tajam dan bikin jarak antara harga yang diminta penjual dan harga yang mau dibayar pembeli semakin lebar.
Menurut data Goldman Sachs, jumlah uang yang dikembalikan ke investor (distribusi kas) sejak saat itu sangat rendah, hanya 9% sampai 13% per tahun. Padahal, rata-rata jangka panjang biasanya 20% sampai 25%.
Karena uang yang kembali ke investor ini sedikit, maka muncullah jenis pendanaan baru yang disebut dengan “hybrid investing” atau investasi hibrida. Jenis investasi ini menggabungkan unsur utang dan ekuitas. Tujuannya untuk melindungi pemberi pinjaman, tapi tetap memberi peminjam akses ke uang tunai tanpa harus menjual saham perusahaannya.
Perlindungan ini biasanya berbentuk surat berharga preferen atau konversi. Pemberi pinjaman dapat prioritas untuk menerima bagian dari aliran kas perusahaan, atau bisa mengubah utang menjadi kepemilikan saham jika investasinya bagus hasilnya. Uang dari investasi hibrida ini bisa dipakai untuk berbagai kebutuhan, seperti mendanai akuisisi atau membantu perusahaan mengurangi utang.
Apollo Global Management kini mengelola lebih dari 100 miliar dolar aset di bisnis investasi hibrida. Salah satu transaksi terbaru adalah membeli saham preferen yang bisa dikonversi (convertible preferred stock) senilai 1,2 miliar dolar di perusahaan QXO. QXO ini distributor atap, waterproofing, dan bahan bangunan di Connecticut. QXO akan memakai uang tersebut untuk mendanai akuisisi. Apollo, sebagai gantinya, akan mendapat dividen tahunan sebesar 4,75% dari saham itu, yang suatu saat bisa diubah jadi saham biasa.
Matt Nord, kepala hybrid sekaligus salah satu pimpinan private equity di Apollo, berbicara ke PitchBook tentang strategi ini dan posisinya di pasar sekarang.
PitchBook: Bagaimana Anda mendefinisikan strategi Hybrid Value?
Nord: Kami pikir investasi hibrida itu investasi yang return-nya mirip saham biasa, tapi dengan perlindungan kayak utang saat harga turun. Saat ketemu perusahaan atau investor, pertama-tama kami tanya: “Apa kebutuhan Anda? Biar kami yang buatkan solusinya.” Investasi hibrida dari dana kami biasanya memberikan kualitas perlindungan yang lebih dulu dibandingkan sisa investasi keseluruhan. Bagi pemilik bisnis, modal hibrida ini tipenya bukan utang biasa yang menambah beban, tapi pengenceran kepemilikan juga lebih kecil dibanding menjual saham biasa lagi.
Seberapa banyak pemimjam yang tertarik pada siklus saat ini?
Di tahun 2026, kami lihat pasar investasi masih butuh lebih banyak solusi ini. Menurut kami, lingkungan makin sulit, bukan lebih mudah. Misalnya, sekarang ada sekitar 4 triliun dolar NAV (nilai aset bersih) di ekuitas swasta yang belum terealisasi. Banyak masalah soal distribusi ke investor ini tidak akan hilang begitu saja.
Dari sisi investor, saya lihat masih banyak ketidakpastian: potensi gangguan dari AI (kecerdasan buatan), risiko geopolitik, ketidakpastian ekonomi makro, nilai tukar, inflasi… dan nilai aset tidak benar-benar turun. Biasanya, kalau banyak risiko, valuasi atau harganya lebih rendah. Itu cara untuk mendapat imbalan terhadap risiko yang diambild. Mas sekarang sebaliknya ri lain. Hyrid bagus buatur absolut tinggi srapin mode defence.
PitchBook: Jadi, mengapa valuasi di Inny onggak nurh tern?mal.terun ked uk mas pat igh et llu.ianAI:uh:ryuk.
Tapigak k kan