Lagos, Nigeria – Guncangan ekonomi pertama dari perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran sudah terasa di pasar minyak, jalur pelayaran, dan ketidakpastian keuangan. Namun, dampak jangka panjangnya bisa melampaui Timur Tengah, mengubah pasar energi, jaringan perdagangan, dan peta geopolitik global.
Di seluruh Afrika, negara-negara tengah meninjau ulang keamanan energi, kemitraan pertahanan, dan strategi investasi di tengah ketidakpastian masa depan aliansi global dan rantai pasokan.
Bagi negara-negara yang sudah bergulat dengan konflik, tekanan utang, dan ekonomi yang rapuh, krisis ini menghadirkan risiko baru. Namun, krisis ini juga mempercepat perdebatan yang sudah lama berlangsung soal bagaimana memperkuat kapasitas energi domestik, mendiversifikasi kemitraan asing, dan mengurangi ketergantungan pada kekuatan eksternal.
Lanskap Geopolitik yang Berubah
Kemitraan eksternal Afrika memasuki masa penyesuaian. Saat kekuatan global menghadapi prioritas keamanan yang bersaing, pemerintah Afrika tengah mengevaluasi ulang strategi investasi, opsi pembiayaan, dan hubungan diplomatik.
Bagi sejumlah analis, gangguan ini juga menghadirkan peluang. Ketidakpastian yang lebih besar dalam tatanan global dapat mendorong negara-negara Afrika untuk mendiversifikasi sumber pendanaan, memperkuat institusi regional, dan menjalin hubungan yang lebih seimbang dengan kekuatan eksternal.
Peran Iran di Afrika juga tengah dikaji melalui dinamika yang berubah ini. Teheran telah berupaya memperluas keterlibatan politik dan keamanan di sebagian benua itu, terutama saat hubungan beberapa pemerintah Afrika dengan mitra Barat memburuk. Namun, analis memperkirakan konfrontasi yang berkepanjangan dapat memengaruhi kemampuan Iran untuk membiayai dan mempertahankan beberapa kemitraan di luar negeri.
Penurunan keterlibatan Iran belum tentu berarti lebih sedikit keterlibatan asing dalam urusan keamanan Afrika. Rusia dan Turkiye dipandang sebagai kekuatan eksternal yang siap memperluas peran mereka. Moskwa telah meningkatkan kerja sama militer dan hubungan persenjataan lewat inisiatif seperti Africa Corps, sementara Ankara telah memperluas pengaruhnya melalui ekspor pertahanan, teknologi drone, program pelatihan, dan keterlibatan diplomatik.
Hasilnya, menurut sebagian analis, mungkin bukanlah penurunan keterlibatan eksternal dalam urusan keamanan Afrika, melainkan peningkatan persaingan di antara kekuatan asing yang mencari pengaruh.
Sudan dan Perebutan Kawasan Laut Merah
Sudan adalah salah satu contoh bagaimana pergeseran geopolitik yang lebih luas ini terjadi di lapangan. Negara itu telah menjadi fokus persaingan antara kekuatan regional, dan para pengamat semakin melihat perang saudaranya dibentuk oleh aliansi eksternal, jaringan pasokan, dan persaingan di Laut Merah.
Sebagian analis sebelumnya memperkirakan bahwa keterlibatan regional yang lebih besar selama krisis AS-Iran dapat mendorong Arab Saudi dan Uni Emirat Arab untuk bekerja sama lebih erat dan berpotensi meredakan ketegangan atas Sudan. Sejauh ini, hasil itu belum terwujud.
Leena Badri, seorang peneliti Sudan dan rekan nonresiden di Tahrir Institute for Middle East Policy, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa harapan akan terobosan diplomatik telah keliru.
“Harapan bahwa perang Iran akan mendorong Arab Saudi dan UEA lebih dekat dan pada gilirannya meredakan tekanan pada Sudan sejauh ini belum terwujud. Kalaupun ada, persaingan mereka atas Sudan dan kawasan Laut Merah semakin dalam, yang berarti belum ada tanda-tanda nyata perang akan mereda.”
Perang Iran juga menyoroti pentingnya akses maritim. Analis telah menunjukkan kerja sama militer Iran yang dilaporkan dengan militer Sudan dan peran jalur pasokan Laut Merah, sementara jaringan regional yang bersaing juga dilaporkan berupaya meraih pengaruh melalui berbagai saluran.
Bagi Sudan dan negara-negara tetangga, krisis ini memperkuat kekhawatiran bahwa ketidakstabilan di luar perbatasan Afrika semakin dapat memengaruhi dinamika politik dan keamanan di sepanjang koridor Laut Merah.
Kekhawatiran yang sama meluas ke seluruh Afrika. Saat Washington dan sekutunya mencurahkan lebih banyak perhatian dan sumber daya untuk tantangan keamanan di Timur Tengah, beberapa pemerintah Afrika menyatakan kekhawatiran bahwa keterlibatan diplomatik dan bantuan keamanan mungkin akan kurang mendapat perhatian. Bagi negara-negara yang sudah menghadapi ketidakamanan di Sahel dan Tanduk Afrika, pengurangan fokus internasional dapat menambah tekanan pada tantangan yang sudah ada.
Keamanan Energi Menjadi Tantangan Lebih Besar
Krisis ini juga memperlihatkan kerentanan Afrika terhadap gangguan di sepanjang jalur maritim utama. Selat Hormuz merupakan jalur bagi sebagian besar ekspor minyak global, sementara serangan di Laut Merah sejak 2023 telah mengganggu pelayaran komersial. Bagi ekonomi Afrika yang bergantung pada bahan bakar impor, pupuk, dan barang kebutuhan pokok lainnya, biaya transportasi yang lebih tinggi dan ketidakpastian pasokan telah meningkatkan kekhawatiran tentang ketahanan ekonomi.
Analis hubungan internasional yang berbasis di Afrika Selatan, Aaliyah Vayez, mengatakan gangguan ini harus dipandang sebagai bagian dari transisi global yang lebih luas yang mempengaruhi pilihan ekonomi Afrika dan memperlihatkan perlunya ketahanan yang lebih baik.
“Krisis Hormuz menjelaskan betapa dalamnya keterkaitan masa depan ekonomi Afrika dengan sistem global. Hal ini menegaskan perlunya negara-negara untuk memperkuat kapasitas domestik, mendiversifikasi kemitraan, dan mengurangi kerentanan di seluruh energi, perdagangan, dan rantai pasokan,” kata Vayez kepada Al Jazeera.
Analis berpendapat bahwa gangguan ini juga menyoroti tantangan struktural yang lebih dalam. Tekanan ini telah kembali menggema untuk seruan reformasi yang telah didorong oleh para pembuat kebijakan selama bertahun-tahun: memperluas kapasitas kilang, meningkatkan jaringan logistik, dan mengurangi ketergantungan pada pasar energi eksternal.
Afrika mengekspor sebagian besar minyak mentahnya sambil mengimpor sebagian besar produk minyak bumi olahannya, situasi yang membuat banyak ekonomi rentan terhadap guncangan eksternal. Oleh karena itu, memperluas kapasitas kilang dalam negeri semakin dipandang oleh para pembuat kebijakan sebagai prioritas strategis.
Kilang Dangote Nigeria secara luas dipandang sebagai perkembangan yang dapat mengubah dinamika ini. Dengan kapasitas 650.000 barel per hari, fasilitas itu telah mulai mengurangi ketergantungan Nigeria pada bahan bakar olahan impor dan dapat memperkuat keamanan energi domestik.
Wilayah lain masih lebih rentan. Negara-negara Afrika Timur dan Selatan terus sangat bergantung pada bahan bakar impor dari Teluk, sehingga membuat mereka rentan terhadap gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz.
Sebagai tanggapan, pembahasan telah dilaporkan dimulai seputar perluasan kapasitas kilang di Afrika Timur. Proyek kilang yang diusulkan dan melibatkan mitra regional dapat, jika selesai, membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar impor dan meningkatkan ketahanan energi di sepanjang pesisir Samudra Hindia.
Jendela untuk Perubahan Strategis
Krisis Selat Hormuz tampaknya mempercepat perubahan yang sudah berlangsung. Krisis ini telah memperlihatkan kelemahan dalam sistem energi Afrika, jaringan logistik, dan ketergantungan pada mitra keamanan eksternal sambil meningkatkan tekanan pada pemerintah untuk melakukan reformasi jangka panjang.
Pertanyaan utamanya adalah apakah momentum itu akan berlanjut setelah pasar stabil dan jalur pelayaran pulih.
Bagi Afrika, krisis ini bukan hanya soal harga minyak. Krisis ini telah menyoroti kekhawatiran tentang ketergantungan berlebihan pada aktor eksternal untuk energi, investasi, dan keamanan sambil juga menciptakan apa yang dilihat sebagian pengamat sebagai peluang untuk mengejar otonomi strategis yang lebih besar.
Itu dapat mencakup memperluas kapasitas kilang, memperkuat infrastruktur regional, dan mempercepat integrasi melalui Kawasan Perdagangan Bebas Afrika. Kerja sama ekonomi yang lebih besar dapat membantu mengurangi paparan terhadap goncangan eksternal sekaligus memungkinkan negara-negara Afrika menangkap lebih banyak nilai dari sumber daya, pasar, dan posisi geografis mereka.
Tantangannya adalah apakah pemerintah dapat menerjemahkan periode disrupsi ini menjadi perubahan kebijakan yang berkelanjutan. Krisis sebelumnya telah memperlihatkan kerentanan, dari ketergantungan energi hingga jaringan logistik yang terfragmentasi dan kapasitas industri yang terbatas. Perbedaan kali ini akan tergantung pada apakah pelajaran tersebut mengarah pada investasi jangka panjang, bukan sekadar upaya reformasi sementara lainnya.
Marie Camara, kepala sektor publik di Africa CEO Forum, mengatakan krisis ini harus dipandang tidak hanya sebagai gangguan tetapi juga sebagai peluang bagi Afrika untuk memperkuat posisinya dalam ekonomi global.
“Di luar gangguan langsung, krisis ini juga menghadirkan peluang. Afrika dapat memanfaatkan posisi geografis strategisnya untuk menangkap lebih banyak nilai dari pergeseran rute perdagangan dan logistik. Lebih penting lagi, krisis ini menggarisbawahi urgensi mendiversifikasi kemitraan, mengurangi ketergantungan pada rantai pasokan eksternal, dan mempercepat perdagangan intra-Afrika.”