Sabtu lalu, seperti biasanya, Amerika Serikat merayakan Hari Kemerdekaan ke-4 Juli. Negara itu memperingati hari lahirnya Deklarasi Kemerdekaan dengan lomba makan hotdog, parade, kembang api, dan pertandingan bisbol. Namun, perayaan tahun ini berbeda—dan yang paling mencolok, ini menandai hari jadi yang ke-250 sejak berdirinya AS.
Ini juga merupakan salah satu perayaan Hari Kemerdekaan yang paling sarat muatan politik dalam beberapa tahun terakhir. Presiden Donald Trump dijadwalkan berpidato pada malam itu di National Mall, Washington DC, tepat sebelum ‘pertunjukan kembang api terbesar di dunia’ yang dijanjikan. Lebih dari 850.000 kembang api akan diluncurkan dari tongkang di Sungai Potomac, menerangi langit ibu kota negara.
Padahal perayaan hari besar ini selalu diklaim sebagai acara non-partisan. Namun Trump bersumpah akan membuat acara malam itu menjadi ‘RALLY TRUMP yang paling spektakuler dari semuanya’. Acara ini juga terjadi saat Partai Republikan pimpinan Trump berusaha mempertahankan kontrol atas Kongres dalam pemilu paruh waktu November nanti, dengan musim pemilihan pendahuluan yang memanas.
Keterlibatan Trump dalam perayaan 250 tahun ini sudah lama menuai kontroversi. Pada 29 Januari 2025, hanya sembilan hari setelah memulai masa jabatan keduanya, Trump mengeluarkan perintah eksekutif untuk membentuk satuan tugas Gedung Putih yang mengawasi perayaan hari jadi tersebut. Trump menunjuk dirinya sendiri sebagai ketua.
Satuan tugas itu akhirnya menjadi dasar bagi ‘Freedom 25’ll0, kemitraan publik-swasta yang menyusun beberapa acara terbesar, termasuk Great American State Fair di National Mall. Tapi ‘Freedom 250’ dituding mengalihkan sumber daya dari ‘America250’, sebuah panel yang disetujui Kongres dan sudah bertugas merencanakan perayaan sejak 2016.
Keberadaan dua kelompok ini juga menimbulkan kebingungan. Akhir Mei lalu, misalnya, serangkaian pengisi acara mundur dari Great American State Fair karena mereka mengaku disesatkan tentang hubungannya dengan Trump.
Sebelum acara Sabtu, anggota Partai Demokrat di Dewan Perwakilan menerbitkan laporan berisi tuduhan bahwa Trump menggunakan ‘Freedom 250’ untuk kepentingan politik, termasuk memberikan kontrak kepada sekutu-sekutunya. Laporan itu juga menyebutkan ‘Freedom 250’ ‘beroperasi di luar persyaratan transparansi dan akuntabilitas’ dari Kongres, dan bahkan mungkin melakukan penipuan telekomunikasi dengan mengalihkan pendonor yang tidak curiga dari ‘America250’ kepada programnya sendiri.
‘Di bawah Presiden Donald Trump, peringatan ini telah dibajak dan diselewengkan menjadi sarang korupsi dan pengayaan diri,’ bunyi laporan itu.
Namun, berbicara di parade angkatan laut di New York pada Sabtu, Wakil Presiden JD Vance mengabaikan kritikan itu. Ia mengajak para perayau untuk menolak ‘suara-suara cil[SEC]ek nan keras’ yang ‘secara obsesif membicarakan’ ketidaksempurnaan Amerika. ‘Rejekilah pandangan dua dimensi tentang sesama warga negara dan negara ini. Tolak anggapan bahwa keba]”kan dan keberuntungan adalah milik kelompok tertentu,’ kata Vance. Sejarah kita adalah soalorang-orang yang berhasil membangun peradaban besar di tengah alam liar. Tolak pandangan yang har[W]a melihat dosa negara kita, apallev_ anugerah dan keagungannya.’