Chris Hulatt baru berusia 23 tahun ketika dia memutuskan bahwa hidup di perusahaan besar bukan untuknya. Dia sudah menghabiskan dua setengah tahun di program pelatihan Mercury Asset Management. Cukup lama untuk bertemu dengan rekan pendiri Simon Rogerson dan Guy Myles, dan cukup lama juga untuk tahu dia ingin keluar.
“Semua orang mengira kita gila,” kata Hulatt tentang saat mereka bertiga keluar dari program pelatihan bergengsi itu untuk memulai Octopus Investments di awal tahun 2000-an.
Mereka tidak punya rencana bisnis besar atau investor yang siap—hanya tabungan Hulatt sebesar $25.000, apa yang mereka sebut “gen Terminator”, dan tidak ada keinginan untuk kembali ke dunia kerja korporat.
“Kami pikir: ‘Kenapa tidak coba memulai bisnis manajemen dana sendiri?’ Itu adalah sesuatu yang sering dilakukan orang secara impulsif,” kata Hulatt kepada Fortune.
“Kami tidak ingin kerja kantoran lagi.”
Hulatt tidak pernah harus kembali ke kehidupan 9-ke-5 sebagai karyawan orang lain.
Hari ini, Octopus Investments mengelola lebih dari $13,2 miliar untuk kliennya, menurut data perusahaan. Lebih dari 70% dana ini ditargetkan untuk investasi yang mengatasi perubahan iklim, meningkatkan kualitas hidup orang, dan mengatasi ketimpangan.
Perusahaan ini sekarang menjadi salah satu dari enam divisi di bawah perusahaan induk, Octopus Group, termasuk perusahaan energi Inggris Octopus Energy. Hulatt masih turut menjalankan Octopus Group yang sekarang mempekerjakan lebih dari 14.000 orang dan melayani 11,3 juta pelanggan.
Mereka tidak punya gaji lagi, jadi mereka harus cepat mencari investor atau kembali ke pekerjaan lama dengan malu.
Mereka berkantor di ruang depan apartemen Hulatt di London, menggunakan buku Yellow Pages, satu telepon kabel, dan, “satu laptop kuno yang tebalnya hampir satu inci.”
“Kami menghabiskan hampir sepanjang tahun 2000 menelpon ribuaan orang untuk meyakinkan mereka berinvestasi di perusahaan manajemen dana yang baru mulai dan belum pernah mereka dengar, dijalankan oleh tiga anak muda tanpa pengalaman panjang di industri keuangan,” kata Hulatt. “Sangat sulit.”
“Satu orang bahkan mengangkat teleponnya, dan dia bilang, ‘dengar nih, ini suara mesin penghancur kertas saya saat menghancurkan rencana bisnis Anda—jangan hubungi saya lagi’.”
“Pasti sangat mudah untuk menyerah setelah satu atau dua bulan mencoba,” tambahnya. Tetapi mereka tidak menyerah.
Seperti yang dikatakan Jordan Belfort dari film The Wolf of Wall Street, mereka mengangkat telepon dan terus menelepon.
“Ini butuh waktu yang sangat lama (hampir sepanjang tahun 2000). Tapi kami benar-benar ingin usaha ini berjalan.”
Pada akhir tahun, setelah banyak penolakan, para pendiri muda ini berhasil meyakinkan 85 orang untuk menyuntikkan sekitar $2 juta ke Octopus Investments.
Ini pelajaran tentang kekuatan kemenangan kecil: ide tidak harus yang pertama, persentasi tidak harus sempurna, atau bahkan keberuntungan yang besar yang membuat Octopus Investment berhasil.
“Kami hanya terus mencoba. Kekeras kepalaan untuk tidak menyerah—kami menyebutnya ‘gen Terminator’—sangat penting bagi kami,” saran Hulatt untuk pebisnis pemula.
“Anda harus terus gigih, harus percaya sama diri sendiri, dan jangan pernah menyerah.”