Kekhawatiran terkait cuaca panas ekstrem di bulan Juli sudah menghantui Piala Dunia 2026 sejak berbulan-bulan lalu. Sekarang, kekhawatiran itu menjadi kenyataan saat turnamen ini berlangsung di salah satu minggu terpanas dalam setahun.
Dengan adanya ‘kubah panas’ yang menyelimuti sebagian besar Amerika Serikat dan Kanada, membuat kondisi seperti di dalam tungku dengan suhu diperkirakan naik hingga melebihi 43 derajat Celsius di beberapa kota tuan rumah. Para peramal cuaca pun memperingatkan soal potensi bahaya panas untuk pertandingan-pertandingan sistem gugur pekan ini.
Beberapa pertandingan akan sangat terdampak. Otoritas kesehatan Toronto mendesak para penggemar yang akan menonton pertandingan Portugal melawan Kroasia pada hari Kamis untuk tetap terhidrasi dan membatasi konsumsi alkohol. Ini setelah badan lingkungan Kanada mengeluarkan peringatan gelombang panas. Kepala petugas kesehatan setempat menyebut suhu bisa terasa seperti 40 derajat Celsius karena kelembapan.
Pertandingan hari Jumat antara Kolombia dan Ghana di Kansas City akan digelar di bawah peringatan panas ekstrem, dengan suhu yang terasa seperti 43 derajat Celsius. Miami, tempat Argentina menghadapi Cape Verde, juga diperkirakan akan berpotensi mengalami risiko panas tinggi pada akhir pekan ini. Sementara itu, laga Paraguay melawan Prancis di Philadelphia bisa menghadapi kondisi serupa, dengan suhu diprediksi mencapai 39 derajat Celsius.
Urusan stadion juga tidak semuanya sama. Stadion di Atlanta, Dallas dan Houston memiliki atap yang bisa dibuka-tutup dan pendingin udara. Namun di Toronto, kapasitas stadion diperluas untuk Piala Dunia tetapi perlindungan atapnya terbatas sehingga ribuan penonton tetap terpapar sinar matahari. Begitu pula di Philadelphia dan Kansas City.
Bahkan saat pertandingan digelar di dalam ruangan atau stadion tertutup, perjalanan jalan kaki menuju stadion memiliki risikonya sendiri. Di Dallas, para meteorolog memperingatkan bahwa meskipun suhu udara di sekitarnya bisa sekitar 32 derajat Celsius, aspal di luar stadion bisa mencapai 50 derajat Celsius. Panasnya tembus hingga ke kaki saat parkir atau naik kereta.
Ketika tubuh kepanasan saat berolahraga berat, efeknya bisa serius bahkan untuk atlet profesional. Kelelahan akibat panas bisa menyebabkan dehidrasi, pusing, kram, dan kelelahan ekstrem, sampai pada kondisi darurat. Selain berdampak ke atlet, panas juga mengubah laju pertandingan itu sendiri karena pemain jadi lebih hemat energi.
FIFA sudah menerapkan jeda hidrasi atau minum selama tiga menit yang wajib dilakukan dua kali per pertandingan, tanpa peduli cuaca atau lokasi pertandingan sebenarnya. Jeda ini sempat memicu kontroversi karena dianggap mengganggu ritme dan celah komersial. Namun FIFA membantahnya dan mengatakan alasan utamanya semata-mata karena kondisi panas.
Selain wajib jeda minum, tim juga diperkenankan sampai dengan lima kali pergantian pemain. Pertandingan kini memiliki minimal tiga hari jeda untuk istirahat dan fasilitas bangku pemain cadangan ber-AC. Panitia juga pernah merancang jadwal dengan mempertimbangkan supaya pertandingan yang rawan terjadi panas dialokasikan ke stadion bertudung atau ada perubahan jam tertentu.
Untuk keamanan penonton, beberapa rumah sakit di kota tuan rumah menyaranakan agar selalu bawa minum sebelum haus, mencari lokasi teduh atau berteduh , batasi asupan alkohol, dan pantau gejala fisik seperti pusing atau hilang keringat. Di arena pertandingan, tersedia tempat pendingin dan satuan medis jika masalah panas muncul secara mendadak.