CEO SmartWealth Asset Management, Miro Mitev, bilang kalo gejolak terbaru di pasar swasta lagi-lagi nunjukin kelemahan dasar dalam pengambilan keputusan manusia.
“Yang kita pelajarin lagi beberapa bulan terakhir adalah manusia gak bisa ngelola resiko dengan baik saat kondisi cepat berubah,” kata Mitev, sambil nunjuk tekanan likuiditas yang makin besar di pasar ekuitas swasta.
“Pasar bergerak cepet, tapi prilaku manusia sering berayun antara panik dan tunda, apalagi dimasa-masa tegang secara geopolitik, kayak ketegangan soal Iran belakangan ini dan kembalinya kekhawatiran soal rantai pasokan global,” tambah Mitev.
Ini Wajib Baca:
SmartWealth, yang fokus di sekuritas likuid (saham, obligasi, mata uang, aset kripto, ETF) juga aset privat non-likuid (ekuitas swasta, properti, koleksi seni, barang mewah lain), udah mulai milih pake kecerdasan buatan untuk lawan kelemahan prilaku ini. Kata Mitev, strategi berbasis AI perusahaan ini baru-baru ini nilainya lebih bagus dibanding kompetitor.
“Model AI kita tetep objektif selama kuartal kemarin. Pas ketidakpastian soal semikonduktor dan valuasi teknologi naek, modelnya nurunin eksposur teknologi dari sekitar 45% jadi 28%, sebelum balik lagi beli waktu kondisi udah normal,” ucapnya.
Latar belakangnya ini cukup menantang buat ekuitas swasta. Market lagi hadapi krisis likuiditas yang berkepanjangan, karena aktivitas keluar yang lebih lambat nunda pembagian hasil balik ke investor — sebagian besar gara-gara suku bunga tinggi, pembelian yang mandek, dan ketidakpastian ekonomi yang terus terjadi.
Lihat Juga: Lo pikir udah cukup nabung buat anak? Mungkin lo salah besar — liat sebabnya
Data dari S&P Global Market Intelligence nunjukin tren ini: volume keluar ekuitas swasta global turun 6,25% di kuartal pertama, dengan 720 transaksi tercatat, turun dari 768 di kuratal pertama tahun 2025.
Waktu puncak gejolak, model AI SmartWealth jg geser defensif, naikin kas beberapa buat beberapa hari trading buat jaga fleksibilitas dan batasin resiko turun. Hasilnya, return sebesar +1,46% untuk buatan tiga bulan pertama, lebih baik dari banyak strategi lain sama pasar ekuitas lebih luas yg alami kerugian di periode yang sama.
Mitev bilang kalo konsistensi kayak gini susah ditiru pake komite investasi biasa.
“Disliplin pake AI sering lebih pragmatic dibanding ngambil keputusan ya g manusiawi yg pecah-pecah, apalagi kalo terlalu banyak suara orang tanpa konsistensi maksa,” katanya.