Jakarta (ANTARA) – Indonesia sedang dalam mode “bertahan hidup” di tengah ketidakpastian global, ujar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada Rabu.
Dalam sebuah simposium di Jakarta, ia menyatakan Presiden Prabowo Subianto memandang situasi saat ini mengharuskan negara mengoptimalkan semua sumber daya untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi maksimal, bukan dengan pendekatan bisnis seperti biasa.
“Saya ingin tegaskan, dalam pikiran Presiden, kita sekarang dalam mode bertahan hidup, jadi ini bukan bisnis seperti biasa,” kata Purbaya.
Untuk membantu menjaga target pertumbuhan ekonomi 8 persen, pemerintah telah membentuk berbagai satuan tugas untuk mengamankan pendapatan dan belanja negara, serta memperbaiki iklim usaha.
Salah satunya adalah Satuan Tugas Penegakan Hukum Kawasan Hutan (PKH), yang telah menangani pelanggaran di area hutan sebagai bagian dari reformasi tata kelola yang lebih luas.
Reformasi ini bertujuan memastikan pengelolaan sumber daya alam memberikan hasil yang optimal bagi negara.
“Saya tekankan disini, kita dalam mode bertahan hidup. Semua harus dilaksanakan secara optimal. Tidak ada lagi ruang untuk kenyamanan,” ujar Purbaya.
Ia menambahkan, arahan kebijakan presiden mencakup pembangunan infrastruktur, memperkuat ketahanan energi, dan pengembangan ekonomi daerah.
Pemerintah juga mendorong efisiensi anggaran dan peningkatan kapasitas industri untuk menambah nilai tambah, termasuk melalui pengembangan sektor kimia dan hilirisasi yang berorientasi ekspor.
Dalam hal ketahanan energi, pemerintah melakukan diversifikasi sumber pasokan untuk mengurangi ketergantungan pada sejumlah kecil pemasok, langkah yang dianggap krusial di tengah risiko gangguan global.
“Jika semua ini berjalan baik, investasi akan masuk, dan lapangan kerja juga akan tercipta,” katanya.
Pada dasarnya, ekonomi Indonesia tetap kuat, didukung stabilitas fiskal, kredibilitas kebijakan, dan permintaan domestik yang tangguh.
Dia mencatat, sekitar 90 persen ekonomi digerakkan oleh konsumsi domestik, menjadikan daya beli sebagai faktor kunci.
Dia mengutip krisis global 2009, saat Indonesia masih mampu tumbuh 4,6 persen sementara banyak negara mengalami kontraksi.