Seruan untuk Perlindungan Sektor Konstruksi dari Gejolak Harga Material dan Energi

loading…

Studium Generale bertajuk Market Outlook dan Potensi Disrupsi Industri Jasa Konstruksi 2026 pada Jumat (17/4/2026). FOTO/dok.SindoNews

JAKARTA – KAMAJAYA (Keluarga Alumni Universitas Atma Jaya Yogyakarta) meminta pemerintah membuat terobosan dan kebijakan strategis untuk sektor jasa konstruksi Indonesia. Sektor ini terkena dampak negatif karena kondisi geopolitik global, terutama krisis di Timur Tengah. Hal ini sangat dinanti oleh pelaku industri konstruksi, seperti kontraktor, konsultan, pabrikan material, vendor, dan lain-lain.

“Krisis Timur Tengah benar-benar berdampak negatif pada sektor konstruksi Indonesia akhir-akhir ini. Terlihat dari naiknya harga material bangunan seperti baja dan semen, serta ancaman kenaikan harga BBM karena ketidakpastian stok global,” ujar Ketua Umum Pengurus Pusat KAMAJAYA, Desiderius Viby Indrayana, dalam Studium Generale bertajuk “Market Outlook dan Potensi Disrupsi Industri Jasa Konstruksi 2026”, Jumat (17/4/2026).

Baca Juga: Krisis Nafta Landa Jepang, Sektor Konstruksi dan Manufaktur Mulai Lumpuh

Menurut Viby, gangguan logistik dan melemahnya nilai tukar rupiah semakin memperburuk keadaan. Biaya transportasi, operasional, dan logistik naik. Ini berpotensi menunda proyek infrastruktur yang sedang berjalan dan memperlambat pertumbuhan industri konstruksi secara keseluruhan.

Selama ini, pelaku konstruksi yang bekerja pada proyek pemerintah berpedoman pada berbagai kebijakan dan regulasi dari Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Kementerian PUPR. Ini termasuk untuk urusan sertifikasi perusahaan dan tenaga ahlinya.

Sebagai Ketua Umum GATAKI, Viby menekankan pentingnya diskusi banyak pihak tentang Market Outlook Sektor Jasa Konstruksi Indonesia tahun 2026. Khususnya setelah terjadinya gangguan pada kondisi politik dan ekonomi global.

MEMBACA  Gubernur Jakarta meminta maaf atas kekacauan lalu lintas di Tanjung Priok

Tinggalkan komentar