Diterbitkan pada 6 Apr 2026
Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah memperingatkan bahwa proposal Iran untuk mengakhiri perang tidak cukup untuk mengalihkan ancamannya untuk menghancurkan infrastruktur kecuali Teheran membuka kembali Selat Hormuz.
Trump menyatakan pada Senin bahwa batas waktu Selasa yang ia tetapkan bagi Iran untuk membuat kesepakatan adalah final. Ditengah sejumlah ancaman dan klaim tambahan, ia mengatakan proposal tersebut tidak akan meringankan aksi AS.
Artikel Rekomendasi
“Ini proposal yang signifikan. Ini langkah yang signifikan. Ini belum cukup baik, tapi ini langkah yang sangat signifikan,” ujar Trump kepada para wartawan di Gedung Putih, seraya menambahkan bahwa perantara “sedang bernegosiasi sekarang”.
Trump memperingatkan pada Minggu bahwa kecuali Teheran menyetujui sebelum Selasa malam untuk mengizinkan lintas bebas kapal melalui Selat Hormuz, ia akan memerintahkan serangan terhadap pembangkit listrik dan jembatan Iran.
Dalam masa damai, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur air strategis yang menghubungkan Teluk dengan Samudera Hindia ini.
Lebih awal pada hari Senin, proposal gencatan senjata 45 hari diajukan oleh Pakistan setelah pertemuan-pertemuan yang mencari solusi diplomatik untuk perang, yang dipicu pada 28 Februari oleh serangan Israel dan AS terhadap Iran, yang telah membalas dengan menembakkan misil ke target-target di seluruh Timur Tengah.
Badan berita milik negara Iran, IRNA, menyatakan Teheran telah menyampaikan responsnya via Islamabad. Iran dilaporkan menolak gencatan senjata yang diusulkan, dan sebagai gantinya mengajukan seruan untuk pengakhiran permanen permusuhan.
Proposal Iran terdiri dari 10 klausul, termasuk pengakhiran konflik di kawasan, protokol untuk lintas aman melalui Selat Hormuz, pencabutan sanksi dan rekonstruksi, tambah IRNA.
“Kami tidak akan sekedar menerima gencatan senjata,” ujar Mojtaba Ferdousi Pour, kepala misi diplomatik Iran di Kairo, kepada kantor berita The Associated Press. “Kami hanya menerima akhir dari perang dengan jaminan bahwa kami tidak akan diserang lagi.”
‘Binatang’
Gedung Putih mengonfirmasi bahwa proposal gencatan senjata sedang dipertimbangkan namun Trump “belum menyetujui”nya dan perang masih berlanjut.
“Ini salah satu dari banyak ide, dan POTUS [Presiden Amerika Serikat] belum menyetujuinya. Operasi Epic Fury berlanjut,” ujar seorang pejabat Gedung Putih kepada kantor berita AFP.
Kemudian, Trump mengatakan dirinya “sangat kecil kemungkinannya” untuk menunda batas waktu dari pukul 20.00 waktu Washington pada Selasa (00:00 GMT). “Mereka sudah punya banyak waktu,” katanya.
Trump telah memperingatkan bahwa AS bisa membombardir Iran “kembali ke zaman batu” kecuali mereka menyetujui sebuah kesepakatan.
Ditanya apakah ia khawatir dengan saran bahwa serangan terhadap infrastruktur diklasifikasikan sebagai kejahatan perang, ia membalas: “Saya tidak khawatir tentang itu.”
“Anda tahu kejahatan perangnya?” lanjutnya. “Kejahatan perangnya adalah membiarkan Iran memiliki senjata nuklir,” seraya menambahkan bahwa pimpinan Iran adalah “binatang-binatang” yang telah membunuh puluhan ribu pengunjuk rasa.
Penopang Ekonomi
Penolakan Iran terhadap proposal gencatan senjata datang bersamaan dengan serangan Israel terhadap pabrik petrokimia kunci untuk ladang gas South Pars dan menewaskan dua komandan Korps Pengawal Revolusi Islam.
Israel mengklaim tanggung jawab untuk serangan terhadap pabrik di Asaluyeh tersebut, sebuah situs kunci untuk sektor energi Iran dan ekonomi yang lebih luas, baik untuk produksi produk sampingan minyak bumi maupun untuk kerja sama dengan Qatar di ladang gas alam terbesar dunia. Serangan tersebut tampaknya terpisah dari ancaman dan batas waktu Trump.
Cengkeraman Iran atas selat tersebut telah menyebabkan harga minyak melonjak dan mengguncang perekonomian dunia.
National Petrochemical Company menyatakan situasi “terkendali” pasca serangan dengan tingkat kerusakan sedang dievaluasi.
“Kebakaran telah dapat dikendalikan. Situasi saat ini terkendali, dan aspek teknis, serta tingkat kerusakan, sedang dalam penyelidikan,” kutip IRNA dari perusahaan minyak tersebut, seraya menambahkan tidak ada laporan korban luka.
Gedung Putih tidak segera memberikan komentar mengenai serangan tersebut.
Setelah serangan Israel terhadap South Pars pada Maret, Trump mengatakan Israel tidak akan menyerangnya lagi namun memperingatkan bahwa jika Iran terus menghantam infrastruktur energi Qatar, AS akan “meledakkan” ladang tersebut “secara besar-besaran”.