MENTERI BAHLLIL: INDONESIA TETAP UNTUNG IMPOR MINYAK AS, MESKI HARGA DUNIA NAIK
Jakarta (ANTARA) – Menteri Energi Bahlil Lahadalia menyatakan Indonesia masih bisa mendapat keuntungan meski mengimpor minyak mentah dari Amerika Serikat. Hal ini disampaikan di tengah melonjaknya harga global akibat eskalasi konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.
Harga minyak Brent di bursa ICE naik hingga US$83 per barel. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga Januari 2026 yang hanya US$64 per barel, menunjukan kenaikan tajam di pasar minyak dunia.
Usai menghadiri buka puasa bersama di Kementerian ESDM Jakarta, Rabu malam, Lahadalia mengatakan pembelian minyak mentah dari pemasok AS akan melalui negosiasi untuk dapatkan syarat yang menguntungkan.
Negosiasi ini memastikan Indonesia tetap bisa mengambil manfaat dari transaksi tersebut, sekalipun harga minyak internasional naik akibat ketegangan geopolitik.
Menurut Lahadalia, perusahaan energi negara, Pertamina, punya pengalaman luas dalam merundingkan kontrak minyak dan mampu mengamankan harga kompetitif di pasar global.
Perusahaan itu baru-baru ini mulai mengalihkan sebagian impor minyak Indonesia dari Timur Tengah ke Amerika Serikat. Ini adalah bagian dari upaya diversifikasi sumber pasokan.
Strategi ini diharapkan bisa memperkuat keamanan pasokan minyak mentah dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada satu kawasan.
Sementara untuk bahan bakar jadi, Indonesia masih sangat bergantung pada impor bensin dan solar dari Singapura. Singapura merupakan salah satu pusat penyulingan dan perdagangan minyak terbesar di Asia.
Lahadalia menerangkan, Singapura mendapatkan minyak mentah dari berbagai negara. Hal ini memungkinkan mereka menjaga ekspor bahan bakar ke Indonesia tetap stabil, bahkan jika pengiriman dari Timur Tengah terganggu.
Pasokan minyak mentah bisa didapat dari berbagai produsen, seperti Angola di Afrika, Brasil di Amerika Selatan, Malaysia di Asia Tenggara, dan Amerika Serikat. Diversifikasi ini menunjukan bahwa pasokan minyak global tidak hanya bergantung pada produsen Timur Tengah, ujarnya.
Keamanan energi Indonesia mendapat sorotan karena konflik yang meningkat memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan.
Pada 28 Februari, pasukan AS dan Israel melancarkan serangan terkoordinasi ke sejumlah target Iran, termasuk di Teheran. Serangan ini merusak infrastruktur dan dilaporkan menimbulkan korban jiwa di kalangan sipil.
Presiden AS Donald Trump menyatakan Minggu lalu bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan tersebut. Laporan ini kemudian dikonfirmasi oleh televisi negara Iran.
Media Iran juga melaporkan bahwa Selat Hormuz secara efektif telah ditutup pasca serangan, meski tidak ada blokade resmi yang diumumkan.
Selat tersebut tetap menjadi salah satu jalur energi paling kritis di dunia, yang menangani sekitar seperlima perdagangan minyak global dan volume besar gas alam cair.
Sekitar 20 persen dari konsumsi minyak harian global, atau hampir 20 juta barel, melewati koridor ini. Artinya, gangguan apa pun bisa berdampak signifikan pada pasar energi internasional.
Berita terkait: Indonesia upayakan pembebasan dua kapal Pertamina di Selat Hormuz
Berita terkait: Indonesia mulai impor minyak mentah AS di tengah ketegangan Timur Tengah
Penerjemah: Putu IS, Rahmad Nasution
Editor: Arie Novarina
Hak Cipta © ANTARA 2026