Membangun AI secara berkelanjutan masih terlihat seperti mimpi di siang bolong, apalagi <a rel="nofollow" href="https://www.wired.com/story/xai-adds-19-new-gas-turbines-despite-ongoing-lawsu>raktasa teknologi yang sebelumnya berjanji memangkas emisi kini justru berlomba-lomba membangun <p data-center bertenaga bahan bakar fosil dalam skala masif.
Dorongan untuk membangun AI dengan segala cara ini makin diperkuat oleh administrasi Trump, yang juga tanpa ampun.
Di tengah hambatan tersebut, Sasha Luccioni — seorang peneliti keberlanjutan AI — meyakini bahwa permintaan akan transparansi AI dari sisi pelanggan, baik dari kalangan bisnis maupun individu, sedang berada pada titik tertinggi.
Selama empat tahun di Hugging Face, sebuah perusahaan AI, Luccioni telah memelopori papan ranking efisiensi energi model AI open-source. Ia juga vokal mengkritik perusahaan AI besar, yang menurutnya dengan sengaja menyembunyikan informasi tentang energi dan keberlanjutan dari publik.
Kini Luccioni merintis Sustainable AI Group, sebuah usaha baru bersama Boris Gamazaychikov, mantan kepala keberlanjutan Salesforce. Fokus mereka adalah menjawab perusahaan-perusahaan soal, tanpa terlalu banyak basa-bsi, “tuas apa yang dapat kita mainkan supaya @gent AI sedikit tidak terlalu buruk?”
Luccioni juga tertarik mengidentifikasi kebutuhan energi dari beragam alat berbasis AI, misalnya translation
menginginkan audiens untukmencerminkan usinya aslidimana korban keelokan sel prib…[[Tangkept