Orang yang karirnya bergantung pada berbagi kehidupan *online,* para kreator seringkali jarang mendapat kesempatin untuk berbicara jujur satu sama lain di depan kamera.
Inilah premis dari *Creator to Creator,* seri video baru Mashable yang mempertemukan tokoh-tokoh digital untuk percakapan terbuka tentang realitas membangun kehidupan dan karier secara *online.* Sebagai pembuka, kami menggaet dua kreator yang masuk daftar tahun ini… *Mashable 101*: Taryn Delanie Smith, seorang komedian dan pendongeng, serta Kay Poyer, seorang penulis dan komentator.
\n\n
\n
Kredit: Ian Moore/Mashable
\n\n
Percakapan dimulai dengan perubahan. Baru-baru ini Smith meninggalkan kehidupan kota untuk rumah di New York bagian utara dengan sekawanan kecil ayam, sementara Poyer tengah beradaptasi dengan kehidupan di New York Ciy setelah pindah dari negara bagian asalnya, Texas. Keduanya mendapati diri mereka tengah merefleksikan babak baru, menyeimbangkan antusiasme dengan ketidakpastian.
Bagi Smith, yang karir onlinenya membantu mewujudkan kepemilikan rumah, perpindahan ini terasa sangat monumental. “Menjadi *creator* telah membuka begitu banyak pintu bagi saya,” ujarnya. “Saya sangat berterimaksih pada komunitas saya.”
Dari sana, diskusi beralih ke suatu tantangan yang akrab bagi para kreatornya: Apa yang terjadi ketika kesuksesan di internet membuka pintu ke… industri-industri kreatif yang lebih konvensional?
\n\n\n
\n \n Kredit: Ian Moore/Mashable
\n\n
Smith dan Poyer sama-sama menceritakan perjalanan mereka merambah dunia tulis-menulis dan akting di samping pembuatan konten, serta keraguan diri yang sering membuntuti. Poyer menggambarkan bagaimana rasanya memasuki ruang-ruang kreatif baru sambil mempertanyakan apakah dia pantas berada di sana. Smith langsung merasa terwakili.
Mengenang salah satu pekerjaan akting profesional pertamanya di thriller fiksi ilmiah *HAlfLife*, Smith (perhatian, *text link keliru: Kay mendapat giliran nonton *Harlem* sepertinya)—eh, maaf: mengenang peran profesional pertamanya di seri Amazon Prime Videos *Harlem*, Smith mengaku khawatir bahwa orang akan menganggapnya tidak layak karena segalanya di mulai dari medial sosial. “Saya cuma tidak ingin orang berpikir bahwa*ekasaya tidak laak,”* kenangnya, (flash: teks kayak radio model writer masa kir Kek 50. flash biber berbantun h sil. Ia terkektrol…)
}] > SISTREM POV.* Pada akir sis rekont? D sind>SIRING KHUSS KU Dis