Pada hari Jumat lalu, terungkap bahwa calon pilihan Presiden Trump untuk menggantikan Ketua Federal Reserve Jerome Powell pada bulan Mei adalah Kevin Warsh. Ia sebelumnya pernah menjabat sebagai anggota Dewan Gubernur The Fed pada masa pemerintahan Bush dan Obama. Penunjukan ini menarik perhatian kuat di industri kripto, mengingat Warsh telah menyampaikan pernyataan beragam tentang bitcoin, mata uang digital bank sentral (CBDC), stablecoin, dan teknologi blockchain selama ini.
Meski sebelumnya Warsh sempat mengunggulkan manfaat CBDC dibanding stablecoin, ia juga tercatat sebagai investor di startup stablecoin Basis. Perusahaan ini mengembangkan stablecoin algoritmik, yang jenisnya serupa dengan yang terlibat dalam keruntuhan kripto 2022 lalu. Selain itu, Warsh juga terlibat pada masa-masa awal Bitwise Asset Management, yang kini mengoperasikan dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) untuk bitcoin dan aset kripto lainnya.
Secara spesifik terkait bitcoin, komentar Warsh bervariasi dari netral hingga positif. Ia pernah menyatakan di CNBC bahwa bitcoin pada dasarnya adalah emas bagi siapapun yang berusia di bawah 40 tahun. Baru-baru ini, ia membela bitcoin dalam sebuah wawancara, dengan menyatakan, “Bitcoin tidak mengkhawatirkan saya. Saya melihatnya sebagai aset penting yang dapat membantu memberi tahu para pembuat kebijakan ketika mereka melakukan hal yang benar atau salah. Ia bukan pengganti dolar. Saya pikir ia sering kali dapat menjadi polisi yang baik bagi kebijakan.”
Ketika kita menggabungkan pernyataan Warsh tentang bitcoin dan stablecoin, hal itu selaras dengan kebijakan pemerintahan Trump terkait kripto, yang mencakup penggunaan stablecoin untuk memperkuat hegemoni moneter AS dan pembentukan cadangan bitcoin nasional. Pernyataan Warsh tentang peran bitcoin sebagai pengawas kebijakan juga sejalan dengan penelitian Jal Toorey, yang lama berargumen bahwa bitcoin adalah dasar ideal untuk konsep *Ideal Money* dari matematikawan John Nash.
Semua ini mungkin terdengar positif bagi bitcoin; namun kenyataanya, harga aset kripto tersebut sempat turun ketika kabar calon penunjukan Warsh beredar. Menurut laporan CoinDesk, ini kemungkinan disebabkan oleh pernyataan masa lalu Warsh yang mengindikasikan sikap yang lebih *hawkish* dalam kebijakan The Fed dibanding ekspektasi terhadap Trump, yang kerap mencela Powell karena tidak menurunkan suku bunga. Meski demikian, penting diingat bahwa ketua The Fed tidak memiliki kekuasaan unilateral atas kebijakan bank sentral.
Walaupun bitcoin sering digembar-gemborkan sebagai aset safe haven seperti emas, ia lebih sering bergerak sebagai aset berisiko (*risk-on*) di saat ketidakpastian ekonomi, seperti yang terlihat pada ketegangan baru-baru ini di Greenland. Tentu saja, emas sendiri akhir-akhir ini juga berperilaku lebih mirip bitcoin dalam hal volatilitas harga.
Pada akhirnya, minat bank sentral terhadap bitcoin masih berada di tahap sangat awal. Gubernur Bank Prancis baru-baru ini mengaku tidak tahu bahwa bitcoin tidak memiliki penerbit pusat. Namun, Bank Nasional Ceko memang telah mengakuisisi sejumlah bitcoin sebagai bagian program percobaan tahun lalu, tak lama setelah Presiden ECB Christine Lagarde mengatakan hal demikian tak akan pernah terjadi.
Sulit untuk mengetahui preferensi kebijakan pasti Warsh nantinya, tetapi pencalonannya ini memajukan diskusi tentang hubungan sinergis potensial antara bitcoin dan dolar AS. Dengan utang AS yang telah mencapai level tak berkelanjutan dan bank sentral asing yang memegang lebih banyak emas daripada treasury AS untuk pertama kalinya sejak 1996, patut dipertanyakan apakah seorang penasihat ekonomi Presiden Rusia Vladimir Putin tepat dengan menuding Amerika Serikat memiliki rencana berbasis kripto untuk mempertahankan dominansi moneter di dunia yang semakin digital dan multipolar. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh penggunaan stablecoin USDT Tether oleh rezim Maduro di Venezuela dan Bank Sentral Iran, kripto juga bisa menjadi pedang bermata dua bagi AS.
Tentu, ada pula hal mengenai kekayaan keluarga Trump yang kini terkait dengan kesuksesan industri kripto di AS untuk dipertimbangkan, dengan keuntungan kripto senilai $1,4 miliar yang dinikmati tahun lalu di tengah tuduhan korupsi yang tak pernah terjadi sebelumnya dan skema *pay-to-play*. Profiteering semacam ini pada akhirnya dapat memicu reaksi politik balik, sebagaimana Demokrat Senat berulang kali menyatakan bahwa konflik kepentingan ini perlu diatasi dalam Undang-Undang CLARITY.