Tidak ada yang ingin berbicara dengan bot, tetapi sejauh apa Anda bersedia membuktikan bahwa Anda manusia? Sam Altman berharap orang-orang rela menyerahkan pemindaian mata mereka untuk verifikasi identitas, dan dia mengumpulkan dukungan dari pihak-pihak berpengaruh untuk mendorong lebih banyak orang mengikuti skema ini. Jumat lalu, baik Tinder maupun Zoom mengumumkan kemitraan dengan World milik Altman, perusahaan di balik orb pemindai bola mata yang meresahkan, yang dirancang untuk membuktikan keaslian pengguna.
World telah bekerja sama dengan Tinder dan menjalankan pilot proyek verifikasi di Jepang. Hasilnya cukup sukses hingga Tinder akan menerapkan metode autentikasi ini secara global. Menurut siaran pers, pengguna wajib menjalani verifikasi World, yang memerlukan pemindaian mata di lokasi fisik dengan perangkat khusus. Setelah itu, mereka akan mendapat lencana di profil sebagai tanda “manusia terverifikasi”. Tinder juga akan memancing partisipasi dengan menawarkan lima “boost” gratis—fitur yang sementara menampilkan profil pengguna di urutan teratas.
Zoom juga akan bergabung dalam rencana pembuktian keaslian manusia ini, tetapi dengan pendekatan berbeda. Menurut rilis pers, platform konferensi video itu akan mengintegrasikan World ID Deep Face—teknologi yang mencocokkan foto pengguna yang diambil saat verifikasi di Orb, pemeriksaan wajah real-time dari perangkat pengguna, dan pemindaian frame video langsung yang dilihat peserta lain. Jika ketiga metode cocok, pengguna mendapat lencana “Verified Human”.
World tak berencana berhenti di situ. Perusahaan ini menawarkan diri sebagai solusi bagi praktik penimbunan tiket, dan mengumumkan perangkat lunak bernama Concert Kit yang dapat digunakan penyelenggara acara untuk memastikan hanya manusia nyata, bukan bot, yang membeli tiket. Sekali lagi, ini memerlukan pemindaian biometrik untuk autentikasi.
Intinya, semua versi verifikasi World mengharuskan orang menerima pemindaian biometrik yang invasif. Meski ini mungkin cara terbaik memastikan identitas seseorang, upaya meyakinkan publik untuk tunduk pada pemindaian semacam itu tetap merupakan tantangan besar. Pengaruh mitra World jelas memperumit persoalan. Zoom masih dominan di banyak lingkungan kerja, dan Tinder tetap salah satu platform kencan terbesar di dunia. Tinggal selangkah lagi pemindaian semacam ini bisa menjadi wajib, dengan risiko dicut dari layanan penting jika menolak.
Infrastruktur World tampaknya belum memadai untuk mendukung skema ini dalam skala besar. Tahun lalu, perusahaan mengklaim rencana penyebaran 7.500 Orb di Amerika Serikat, namun tak ada kabar lebih lanjut. Dilaporkan ada sekitar 18 juta pengguna terverifikasi sejauh ini, tetapi banyak di antaranya berasal dari negara berkembang yang mendaftar karena iming-iming Worldcoin—mata uang kripto yang kini sepertinya tidak lagi jadi fokus World. Skema menukar biometrik dengan koin digital ini dikritik karena bersifat eksploitatif dan menyesatkan.
Bahkan dengan itu, World kesulitan mendapatkan dukungan publik, dan itu wajar. Mempercayakan data biometrik ke pihak ketiga mana pun adalah keputusan berisiko (lihat saja kinerja layanan verifikasi pihak ketiga dalam menangani data sensitif untuk pemeriksaan usia), apalagi kepada perusahaan yang dijalankan oleh seorang yang secara terbuka tak terlalu menghargai kemanusiaan.