Jalan Mana yang Akan Diambil: Pertarungan Wall Street

Seiring investasi dalam kecerdasan buatan yang terus melonjak, sejumlah analis memperingatkan tentang potensi gelembung yang sewaktu-waktu bisa pecah dan memicu penurunan pasar lebih luas. Di sisi lain, para pendukung berpendapat bahwa mereka belum pernah seyakin ini akan besarnya peluang yang ditawarkan.

Lantas, siapa yang benar? Di Wall Street, setiap orang bisa memilih argumen sesuai preferensinya masing-masing, sehingga sulit menentukan secara pasti. Namun, kita dapat melihat dasar pemikiran dari kedua kubu.

Pertama, adanya kekhawatiran bahwa sektor ini dinilai terlalu tinggi (overvalued). Analis, investor, bahkan CEO perusahaan raksasa AI telah menyuarakan keprihatinan bahwa valuasi saham terkait AI mungkin sudah terlepas dari fundamental dasarnya.

Lonjakan pesat pada perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang hardware, software, dan infrastruktur AI—termasuk pembuat chip, penyedia layanan cloud, dan firma otomatisasi—telah mendorong valuasi ke tingkat yang dianggap tidak berkelanjutan oleh banyak pihak.

Mengapa hal ini penting? Karena segala sesuatu yang naik, pada akhirnya harus turun.

Ini berarti bahwa volatilitas pasar terkini dan peringatan dari investor veteran mengisyaratkan bahwa reassessment tiba-tiba terhadap valuasi dapat berujung pada penurunan signifikan, mirip dengan gelembung teknologi dan internet di masa lalu.

Para Pendukung (The Hype Men)

Kedua, pertumbuhan lah yang membuat valuasi tersebut sepadan.

Terlepas dari kekhawatiran terkini tentang overvaluasi dan kemungkinan perlambatan pertumbuhan terkait AI, analis UBS minggu ini menegaskan kembali outlook positif mereka pada sektor ini, didorong oleh hasil kuartalan Nvidia yang sangat dinantikan.

Dalam catatan yang dirilis setelah Nvidia melaporkan laba yang melampaui ekspektasi (meski hanya tipis), UBS menyatakan bahwa kasus inti untuk investasi AI tetap utuh.

“Meskipun valuasi mungkin terlihat menggelembung dalam jangka pendek, kebutuhan fundamental akan teknologi AI di berbagai industri terus bertumbuh,” tulis UBS dalam catatan kepada investor.

MEMBACA  5 Tempat yang Tidak Boleh Diletakkan Amazon Echo Anda

Firma tersebut menyoroti peran Nvidia sebagai pemimpin dalam infrastruktur semikonduktor dan AI, menekankan bahwa pertumbuhan pendapatan perusahaan yang kuat—yang diproyeksikan mencapai 48% untuk kuartal ini—adalah pertanda akan terus tingginya permintaan untuk solusi hardware dan software AI.

Analis juga menunjukkan bahwa pergerakan perusahaan-perusahaan besar ke arah integrasi AI didukung oleh peningkatan belanja modal, yang merupakan pertanda baik untuk prospek jangka panjang sektor ini.

“Investor harus tetap yakin,” tambah UBS, “karena permintaan akan platform AI yang skalabel dan berkinerja tinggi hanya akan terus mengalami akselerasi.”

Para ahli pasar sepakat bahwa meski volatilitas jangka pendek tidak terelakkan, pendorong struktural fundamental, seperti adopsi AI dalam komputasi awan, kendaraan otonom, dan AI perusahaan, menunjukkan bahwa narasi pertumbuhan sektor ini masih kuat untuk masa depan yang dapat diprediksi.

Para Pengecam (The Haters)

Tidak semua pihak seoptimis UBS terhadap AI.

Ambil contoh CEO OpenAI, Sam Altman, seorang yang menyaksikan miliaran dolar mengalir deras kepada para pesaingnya. Altman sempat memicu kekacauan pasar ketika menyatakan bahwa investor sedang menjadi “terlalu bersemangat” (over-excited) tentang AI.

“Apakah kita sedang berada dalam fase dimana investor secara keseluruhan terlalu bersemangat tentang AI? Pendapat saya iya. Apakah AI adalah hal terpenting yang terjadi dalam waktu sangat lama? Pendapat saya juga iya,” katanya kepada The Verge, menambahkan bahwa ia merasa beberapa valuasi startup AI “sangat tidak masuk akal” dan “tidak rasional”.

Investor juga semakin waspada setelah laporan bahwa Meta sedang mempertimbangkan “penyusutan” (downsizing) divisi kecerdasan buatannya, dengan sejumlah eksekutif diperkirakan akan hengkang.

Pergeseran potensial ini menandai penyimpangan nyata dari investasi besar-besaran CEO Meta Mark Zuckerberg baru-baru ini dalam mentransformasi operasi AI perusahaannya.

MEMBACA  Tempat Tidur Kucing Cerdas dengan Pemurni Udara Diskon Rp 100 untuk Hari Buruh

Selama beberapa bulan terakhir, Zuckerberg telah menggalang overhaul besar terhadap strategi AI Meta, menekankan peran kritisnya dalam meningkatkan pengalaman pengguna dan bersaing dengan rival seperti OpenAI dan Google.

The New York Times mengutip sumber dekat perusahaan, mengindikasikan bahwa restrukturisasi tersebut dapat berujung pada pemutusan hubungan kerja signifikan atau perubahan dalam kepemimpinan.

Perubahan yang direncanakan ini memunculkan pertanyaan di kalangan pengamat pasar apakah ambisi AI agresif Meta sedang ditinjau ulang, atau jika tantangan internal memaksa adanya pivot strategis. Langkah ini menandai periode ketidakpastian bagi upaya AI Meta, yang sebelumnya merupakan bagian kunci dari visi Zuckerberg untuk pertumbuhan perusahaan di masa depan.

Jadi, tetap melaju atau menginjak rem?

Sementara beberapa ahli mengakui potensi transformatif AI, mereka mengingatkan investor untuk tetap waspada dan menghindari mengejar keuntungan spekulatif yang tidak didukung valuasi yang tepat.

“Risikonya adalah kita berada dalam gelembung buatan manusia yang pada akhirnya akan pecah, menyebabkan kerusakan luas,” ujar veteran industri Michael Johnson.

“Bahkan ketika gelembung dotcom pecah, ada segelintir pemenang yang cukup jelas yang akhirnya bangkit dengan sangat kuat,” kata Jim Cramer dari CNBC. “Jika Anda menyerah pada Amazon di tahun 2001, Anda telah melewatkan kapal senilai $2 triliun.”

Cramer setidaknya pernah sekali diselidiki oleh Securities and Exchange Commission dan juga mendapat kritik atas komentarnya di masa lalu tentang manipulasi pasar.