Ilmu pengetahuan adalah sebuah karya yang terus berkembang; meskipun terdapat berbagai terobosan, umat manusia masih kesulitan untuk menjelaskan sepenuhnya berbagai fenomena alam. Hal itu termasuk dalam memperdiksi letusan gunung berapi. Meski jaringan pemantauan ekstensif memberikan para peneliti beberapa tanda awal erupsi, sistem-sistem ini tetaplah tidak sempurna.
Akan tetapi, sebuah sistem pemantauan baru bernama “Jerk” mungkin menawarkan solusi andal dan sederhana untuk masalah ini. Dijelaskan dalam studi Nature Communications pada Desember 2025, Jerk adalah sebuah seismometer broadband tunggal yang mampu mengidentifikasi sinyal sangat dini dari letusan gunung berapi secara real-time — dan sepenuhnya otomatis.
Biasanya, pengumuman mengenai teknologi inovatif muncul sebelum alat tersebut benar-benar diuji di dunia nyata, dengan kesimpulan yang intinya berkata, “Kami *kira* ini akan bekerja sesuai klaim kami!” Bahkan jika alat tersebut diuji, jarang eksperimen berlangsung selama bertahun-tahun, apalagi jika alat itu ditujukan untuk memantau lingkungan ekstrem seperti gunung berapi.
Sebuah letusan di Piton de la Fournaise pada Januari 2026. © François Beauducel
Nah, uniknya, Jerk bukanlah seperti hal-hal tersebut. Tim di balik Jerk memasang alat mereka di Piton de la Fournaise di Pulau La Réunion, Prancis, pada tahun 2014, di mana alat itu masih berada hingga kini. Makalah terbaru mencakup periode survei 10 tahun, di mana Jerk berhasil memprediksi 92% letusan gunung tersebut, mengirimkan peringatan antara beberapa menit hingga delapan jam sebelumnya.
Itu tentu bukan pencapaian yang mudah. Oleh karena itu, Gizmodo menghubungi François Beauducel dan Philippe Jousset, ahli geofisika yang mengonsep, melaksanakan, dan menguji Jerk selama lebih dari satu dekade. Dalam tanya jawab ini, Beauducel dan Jousset, masing-masing dari Institut de Physique du Globe de Paris di Prancis dan Helmholtz Centre for Geosciences di Jerman, merefleksikan berbagai tantangan dan wawasan selama perjalanan unik mereka yang panjang — serta ke mana arah perkembangan selanjutnya.
Percakapan berikut telah disunting secara ringan untuk tata bahasa dan kejelasan.
Gayoung Lee, Gizmodo: Secara umum, mengapa begitu sulit bagi kita untuk memprediksi letusan gunung berapi atau gempa bumi?
François Beauducel: Kami memiliki banyak observasi tentang kondisi atmosfer. Jadi kami dapat memasukkan semua data ini ke dalam model yang sangat kompleks dan membuat prediksi yang tidak sempurna, tetapi efisien, dalam jangka pendek. Kami tidak memiliki observasi di dalam gunung berapi. Itulah alasan utamanya. Jika kami dapat mengukur segalanya — semua karakteristik mekanik, karakteristik fisik batuan, dapur magma, dan bentuk saluran dari rekahan ke permukaan — kami mungkin bisa membuat prediksi yang baik.
Philippe Jousset: Selain itu, bukan satu teknik pengukuran yang akan memungkinkan kita memahami apa yang terjadi. Bukan seperti ada sebuah bukaan lalu magma (yang dibayangkan sebagai fluida) keluar. Ini lebih kompleks karena magma penuh dengan kristal, gas, cairan, dan air, yang perilakunya bergantung pada komposisi material relatifnya.
Gizmodo: Oke, jadi apa itu Jerk? Bagaimana alat ini meringankan tantangan-tantangan tersebut?
Beauducel: Saat ini, stasiun gunung berapi memerlukan [operasi manual] oleh manusia untuk mengintegrasikan, mensintesis, dan menganalisis semua observasi, barulah kemudian Anda dapat berkata, “Mungkin, kami *kira* sebuah letusan akan datang.” Jadi ini adalah pekerjaan sangat spesialis yang dilakukan oleh ahli vulkanologi berdasarkan geofisika dan geokimia.
Sistem Jerk inovatif karena sepenuhnya otomatis. Ia dapat diimplementasikan hanya menggunakan satu stasiun, pada jarak yang relatif jauh. Di Piton de la Fournaise, Jerk dipasang sekitar 8 kilometer dari gunung berapi. Sistem ini mendeteksi peretakan batuan dini selama migrasi magma ke permukaan.
Pada kebanyakan gunung berapi, definisi sebuah letusan adalah magma yang mencapai permukaan. Dan untuk mencapai permukaan, magma perlu meretakkan batuan atau membuat rekahan baru — dan pembukaan ini menghasilkan “jerk”. Istilah yang digunakan dalam makalah adalah intrusi magmatik.
Jousset: Jika ada intrusi, magma mungkin mencapai permukaan, yang menjadikannya, menurut definisi, sebuah letusan. Tetapi terkadang ia terhenti, karena jerk-nya tidak cukup besar.
Gizmodo: Jadi intrusi tersebut “menyentak” magma ke permukaan.
Beauducel: Ya. Kata “jerk” di sini mengacu pada beberapa hal, tetapi definisi pertama adalah matematis; ia merupakan turunan dari percepatan tanah, sekaligus gerakan horizontal permukaan yang brutal.
Gizmodo: Dan Anda menguji sistem ini di Piton de la Fournaise selama sepuluh tahun. Itu waktu yang lama. Bagaimana Anda bisa melakukannya dan juga memastikan bahwa segala sesuatunya tetap konsisten sepanjang dekade tersebut?
Beauducel: Itu pertanyaan yang sangat menarik. Pertama-tama, tim di Piton de la Fournaise sangat kecil, sekitar 15 orang. Namun observatorium itu dipasang sekitar 50 tahun yang lalu, jadi hampir 50 tahun data tercatat. Saya membuat perangkat lunak khusus untuk bereksperimen dengan pemrosesan sinyal baru dan pemodelan data real-time di gunung berapi. Jadi kami pergi ke observatorium pada April 2014, dan hanya butuh 10 hari kerja lapangan untuk membuat sistem tersebut operasional.
Para peneliti di pusat manajemen krisis erupsi dekat Piton de la Fournaise. © OVPF-IPGP
Adapun mengapa butuh 10 tahun untuk validasi, alasan pertama adalah kami tidak tahu apa “jerk” itu. Bukan kami membuat teori baru lalu mencoba menerapkannya. Kami memiliki sinyalnya lalu mengimplementasikannya sebagai sistem peringatan. Pada akhirnya, kami memiliki 24 letusan untuk divalidasi [dengan sistem]. Jadi itulah ceritanya; kami meluangkan waktu dan mendiskusikannya panjang lebar. Kami tahu kami satu-satunya yang meneliti sinyal semacam ini, jadi kami tidak terburu-buru. Dan sebenarnya, pada 2023, Piton de la Fournaise berhenti meletus. Ini terjadi setiap 10 atau 15 tahun untuk gunung berapi ini.
Jousset: Ya, seolah-olah gunung berapi itu dengan senang hati membiarkan kami bekerja, dan setelah kami menyelesaikan [analisis kami], selesailah sudah.
Gizmodo: Philippe, apakah Anda ingat bagaimana kontribusi Anda pada proyek ini dimulai?
Jousset: Saya ingat persis di mana dan kapan kami mendiskusikan ini. Itu terjadi di Indonesia.
Saat itu, sistem Jerk telah diimplementasikan sekitar lima tahun, dan Gunung Piton de la Fournaise mengalami erupsi ketika kami sedang berada di Indonesia. Francois berkata padaku, “Lihat, ada ‘jerk’. Akan ada erupsi.” Aku tidak percaya. Kubilang padanya, “Ya, sistemnya bekerja, tapi apa sebenarnya itu?” Francois menjelaskan bahwa sinyal ini adalah rekaman saluran seismometer yang mencatat posisi massa dan kecepatan [pergerakan tanah].
Menurut Beauducel, foto ini menunjukkan “Saya dan Philippe sedang mendiskusikan sinyal jerk di Indonesia. Ini bukan rekayasa—ini nyata!” © Y. Beauducel
Salah satu proyek yang saya kerjakan di Prancis berlokasi di suatu tempat di mana runtuhnya material di tambang secara tiba-tiba menghasilkan “kemiringan” signifikan pada seismometer broadband yang terpasang dekat lokasi. Saya melihat bahwa dalam posisi massa di gunung api ini, ada sesuatu yang dapat ditemukan melalui sinyal ini.
**Gizmodo:** Jadi Jerk cukup akurat dalam memprediksi erupsi, setidaknya untuk Piton de la Fournaise. Apa rencana tim Anda selanjutnya?
**Beauducel:** Di Piton de la Fournaise, tantangan berikutnya adalah menyempurnakan sistem Jerk. Terkadang kami mendapatkan *false positive* dari perawatan stasiun atau orang yang berjalan di dekatnya. Pada akhirnya, kami ingin membuatnya sepenuhnya otomatis dan mampu membedakan *false positive* dari alarm normal.
**Jousset:** Kami juga ingin mengukur sinyal-sinyal ini di gunung api lain, untuk melihat apakah sinyal serupa ada di tempat lain. **Gunung Etna**, [tempat kami akan menerapkan sistem ini berikutnya], adalah lokasi terbaik karena merupakan gunung api aktif; terdapat banyak erupsi dengan fraktur sangat kecil yang tidak terdeteksi instrumen konvensional [yang mungkin bisa ditangkap Jerk].
Tantangannya adalah kami akan memasang sistem di atau dekat permukaan. Kami akan menggali lubang sedalam mungkin untuk mengisolasi sistem dari sumber kebisingan lain. Dengan banyak stasiun, kami harap dapat melokalisasi dari mana sinyal-sinyal kecil ini berasal dan apakah karakteristiknya berbeda dibandingkan dengan Piton de la Fournaise.