`
Proxyinsi Preah Vihear jeung Siem Reap – Lamun keur ditéwak kumaha nonoman ngorakankeun gening, Sokna,11, nyirk-nyurikeun sayuran pagawé.[4]an manéhna ngundi nisiunan moyoclakeuneut heula enas jeung sinjeuh ku alat alatan dikala baju ngan meni reudar.
“Kuring teu wenang meunang ngeulas basi di Pobbl�.
Sakola,ulangeun pamaj?”no+.
Bapa akoloh hayang nerjemah.</ser dari po embjdh silakan+9 esdn ( $36.909 pan Mereka memahami perasaanku,” katanya. “Anak-anak saya baru bisa fokus belajar setelah ayahnya pulang dari medan tempur ke kamp pengungsian ini, untuk memulihkan diri dari penyakit dan luka-luka yang didapat saat bertempur.”
Dua pekerja konstruksi mengangkut lembaran seng bergelombang di antara rumah-rumah pemukiman baru yang dibangun untuk warga Kamboja yang terlantar di Provinsi Preah Vihear. [Roun Ry/Al Jazeera]
‘Siapa yang tidak ingin damai?’
Soeum Sokhem, seorang wakil kepala desa, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa rumahnya terletak di “zona bahaya” yang dimiliterisasi di sepanjang perbatasan. Namun, ia merasa terdorong untuk kembali setiap beberapa hari guna memeriksa rumahnya, merawat tanaman, kadang menginap semalam, dan menyapa tetangga lain yang melakukan hal serupa.
“Saya nggak bisa diam saja di sini,” katanya tentang kehidupan di kamp. “Saya harus kembali (ke rumah).”
Ketika ditanya bagaimana perasaannya tentang perang perbatasan, Soeum Sokhem mengatakan bahwa ia telah mengalami begitu banyak perang di Kamboja, sehingga ia tak tahu bagaimana menggambarkan “perasaan batin yang sungguh saya inginkan”.
Ia lalu mendaftar semua konflik yang pernah dialaminya di Kamboja sejak tahun 1960-an: dampak limpahan perang AS di Vietnam tetangga; kampanye pemboman AS di Kamboja; rezim Khmer Merah yang genosidal; dan perang saudara yang menyusul intervensi Vietnam untuk menjatuhkan pemimpin rezim itu, Pol Pot, pada tahun 1979, dan berlangsung hingga pertengahan 1990-an.
Kemudian di tahun 2000-an, pertempuran sporadis di perbatasan dengan Thailand dimulai, tuturnya.
Soeum Sokhem di kamp pengungsian internal di Wat Bak Kam [Roun Ry/Al Jazeera]
Sejarah kontemporer Kamboja sama sekali tidaklah damai, sebuah fakta yang mungkin menjelaskan mengapa pemerintah Kamboja saat ini begitu sering berbicara tentang perdamaian. Gedung-gedung pemerintah dan papan reklame memproklamasikan motto tidak resmi pemerintah: “Terima kasih atas perdamaian.”
“Tapi, siapa yang tidak ingin memiliki perdamaian?” ujar Soeum Sokhem, setelah merentang kehidupan dan banyak konflik yang ia alami.
Kini, pria berusia 67 tahun itu berkata bahwa ia kembali sesekali mendengar tembakan senjata saat pulang memeriksa rumahnya di garis depan.
“Dulu, waktu saya berjalan di sana, itu (situasi) biasa saja,” katanya. “Tapi sekarang, ba lah saya (baca: saya benar-benar) berjalan dengan rasa takut setiap kembali ke sana.”