Washington, DC – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan rencana perang terhadap Iran awalnya “diproeksikan empat hingga lima minggu”, sembari menambahkan bahwa militer AS memiliki “kapabilitas untuk bertahan jauh lebih lama dari itu”.
Berbicara dari Gedung Putih pada Senin, Trump memaparkan justifikasi pemerintahnnya untuk berperang melawan Iran bersama Israel, dengan menyatakan bahwa Iran merupakan “ancaman serius” bagi AS, meski ia kembali klaim bahwa serangan AS terhadap Iran pada Juni tahun lalu menyebabkan “pelenyapan program nuklir Iran”.
Rekomendasi Cerita
Trump juga menyebut program rudal balistik Iran “tumbuh dengan cepat dan dramatis, dan ini merupakan ancaman yang sangat jelas dan kolosal bagi Amerika dan pasukan kami yang ditempatkan di luar negeri”.
“Rezim tersebut telah memiliki rudal yang mampu mencapai Eropa dan pangkalan kami, baik lokal maupun di luar negeri, dan akan segera memiliki rudal yang mampu menjangkau Amerika kami yang indah,” ujar Trump, mengulangi klaim yang berulang kali disampaikan pemerintahannya jelang serangan Sabtu lalu, tanpa disertai bukti oleh pejabat AS.
Pernyataan-pernyataan ini signifikan, di mana Trump tampak beralih dari klaim bahwa Iran merupakan ancaman langsung menjadi menggambarkan pemerintah Iran sebagai ancaman jangka panjang yang potensial.
“Tujuan dari program rudal yang berkembang pesat ini adalah untuk melindungi pengembangan senjata nuklir mereka dan membuatnya sangat sulit bagi siapa pun untuk menghentikan mereka membuat senjata nuklir ini – yang sangat kami larang,” kata Trump.
“Rezim Iran yang dipersenjatai dengan rudal jarak jauh dan senjata nuklir akan menjadi ancaman yang tak tertahankan bagi Timur Tengah, tetapi juga bagi rakyat Amerika,” tegasnya.
“Negara kita sendiri akan berada dalam ancaman, dan hampir saja terancam,” imbuh Trump.
Baik menurut hukum domestik AS maupun hukum internasional, serangan terhadap negara asing harus merupakan tanggapan atas ancaman langsung. Di bawah Konstitusi AS, hanya Kongres yang dapat mendeklarasikan perang, sementara presiden dapat bertindak unilateral sebagai respons terhadap ancaman yang sudah di ambang mata.
Trump telah merilis dua pidato video sejak AS dan Israel memulai serangan, termasuk menyatakan dalam pesan rekaman yang dirilis kemarin bahwa Iran telah melancarkan “perang melawan peradaban”.
Ia juga memprediksi kemungkinan akan ada lebih banyak korban jiwa personel militer AS setelah Pentagon mengonfirmasi tiga anggota militer pertama yang tewas di Timur Tengah pada Minggu.
Hingga saat ini, setidaknya 555 orang tewas di Iran, 13 di Lebanon, 10 di Israel, tiga di Uni Emirat Arab, dan dua di Irak, dengan Oman, Bahrain, dan Kuwait masing-masing melaporkan satu kematian menyusul aksi balasan Iran di kawasan tersebut.
Pada hari Senin, tak lama setelah Pentagon mengonfirmasi anggota keempat militer AS yang tewas, Trump tidak memberikan garis waktu yang jelas untuk operasi tersebut.
Dia mengatakan, “Sejak awal, kami memproyeksikan empat hingga lima minggu, tetapi kami memiliki kemampuan untuk bertahan jauh lebih lama dari itu.”
Trump menambahkan bahwa militer awalnya memproyeksikan empat minggu untuk “mengakhiri kepemimpinan militer” Iran.
Hingga saat ini, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan beberapa pejabat tinggi lainnya, termasuk kepala Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC), telah dikonfirmasi tewas dalam serangan AS-Israel.
“Kami jauh lebih maju dari jadwal di sana,” ujar Trump.
Perang ‘America First’?
Trump berbicara tak lama setelah kepala Pentagon Pete Hegseth menjawab pertanyaan wartawan untuk pertama kalinya sejak serangan dimulai.
Hegseth tampak menanggapi kekhawatiran dari gerakan “Make America Great Again” (MAGA) Trump sendiri tentang keterlibatan dalam perang yang berkepanjangan.
Trump telah berjanji untuk mengakhiri intervensi AS selama kampanye presidennya, dengan berjanji fokus pada kebutuhan dalam negeri daripada petualangan di luar negeri.
“Ini bukan Irak. Ini tidak tanpa ujung,” kata Hegseth.
“Operasi ini adalah misi yang jelas, menghancurkan, dan menentukan. Hancurkan ancaman rudal, hancurkan angkatan laut, tidak ada nuklir,” tegasnya.
“Israel juga memiliki misi yang jelas, untuk itu kami adalah mitra yang bersyukur dan mampu,” katanya, tanpa mendefinisikan misi Israel.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah lama menyerukan penggulingan pemerintah Iran.
Hegseth lebih lanjut bersumpah untuk bertempur dalam perang ini “semua sesuai syarat kami, dengan otoritas maksimal, tanpa aturan keterlibatan yang bodoh, tanpa kubangan nation-building, tanpa latihan membangun demokrasi, tanpa perang yang politically correct”.