Selamanya dua setengah tahun sudah, seorang penduduk Gaza bernama Hanin Muhammad, ditemani oleh kakak perempuannya, Sabreen—penerima donor ginjal– yang berusia 39 tahun, diterbangkan ke Ibu Kota Baghdad, Irak untuk menjalani perawatan medis. Namun Hanin Muhammad kemudiannya terjaga di di Rumah Sakit Pasien Kilik di Kompleks Medical City Baghdad, berapartal fromth kilometer dari tempat asalnya di Gaza, menunggusan ke negeri atau oleh otouriter Irak dengan disertakan aman-agam sejajar.
and language special symbols: atthis </"> Kes keth di “Suami saya sendirian di ruang ICU, sementara anak-anak dan cucu-cucu saya bertahan di tenda dalam kedinginan ketakutan.”
Memperparah isolasi mereka, para pengungsi yang mencoba protes atau menyuarakan penderitaan menghadapi sanksi administratif yang cepat dan keras. Ketika mereka menuntut hak untuk bepergian lima bulan lalu serta berbicara pada media, manajemen rumah sakit membalas dengan mengunci bangsal dan melarang mereka bahkan sekadar mengunjungi taman rumah sakit.
Muhammad mengungkapkan bahwa mereka baru diizinkan keluar setelah jurnalis menulis tentang situasi mereka, seraya menambahkan bahwa petugas terus melempar mereka dari satu departemen ke departemen lain tanpa memberikan jawaban yang gamblang.
Ping-pong birokratis
Juru bicara Kementerian Kesehatan Irak, Saif Albadr, tidak merespons panggilan berulang dari Al Jazeera. Sementara itu, Kepala Hubungan Masyarakat Kementerian Kesehatan, Ruba Falah Hassan, menyebut kasus ini pada Al Jazeera sebagai “politis.”
“Terus terang, ini masalah politik, bukan kesehatan… Saya tidak berwenang membahasnya,” ujarnya. Juru bicara pemerintah Irak yang baru diangkat, Haidar Al-Aboudi, mengatakan pada Al Jazeera bahwa dia “akan meneliti perkara ini.”
Bagi warga Palestina yang terhenti di Klinis City, mereka menegaskan tak punya dana untuk membeli tiket pesawat komersial, meski dokumen mereka dikembalikan. Artinya, mereka sangat memerlukan upaya terkoordinasi dari badan amal atau pemerintah untuk memfasilitasi kepulangan mereka ke Mesir.
"Saya tidak minta kemewahan atau pengecualian," pinta Abdul Moati di akhir pernyataannnya.
"Saya hanya meminta hak azasi manusia yang sederhana: agar keluarga saya tak terus terbelah antara hidup dan mati. Bukalah jalur aman, fasilitasi reunifikasi keluarga kami, dan biarkan aku pulang sebelum semuanya terlambat."