Tak ada jeda dalam serangan maut Israel, kendati gencatan senjata yang ditengahi AS—putaran perundingan baru diharapkan pekan depan.
Serangan Israel di seluruh Lebanon telah menewaskan setidaknya 19 orang, meskipun gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat kini memasuki minggu ketiga.
Dalam sebuah pernyataan pada Sabtu, Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon mengatakan serangan Israel di kota al-Saksakieh, distrik Sidon selatan, menewaskan setidaknya tujuh orang, termasuk seorang anak, dan melukai 15 lainnya, termasuk tiga anak.
Di tempat lain, serangan Israel menewaskan seorang pria Suriah dan putrinya di Nabatieh; tiga orang di Nahrain; tiga di Saadiyat; tiga lagi di Haboush; dan satu di Mefdoun.
Serangan-serangan ini terjadi meskipun gencatan senjata bulan lalu yang dimaksudkan untuk menghentikan pertempuran dengan kelompok bersenjata Hizbullah. Sejak 16 April, pasukan Israel telah membunuh hampir 500 orang, sehingga total korban jiwa sejak invasi dan pemboman Israel di Lebanon dimulai pada 2 Maret mencapai lebih dari 2.750 orang, menurut Kementerian Kesehatan.
Secara terpisah, tentara Israel mengeluarkan perintah pengungsian paksa baru untuk beberapa kota, sembari terus menduduki sebagian wilayah Lebanon selatan, mempertahankan zona penyangga yang mencegah kembalinya ratusan ribu orang terusir serta merobohkan rumah-rumah di dalamnya.
Melaporkan dari Tirus, Lebanon selatan, koresponden Al Jazeera, Obaida Hitto, mengatakan tidak ada tanda-tanda gencatan senjata di lapangan, karena jumlah korban tewas akibat “serangan ganas” Israel sepanjang hari “terus meningkat”.
Pada Sabtu malam, media pemerintah Lebanon melaporkan serangan udara tambahan di beberapa kota di seluruh Lebanon selatan. Belum ada informasi langsung mengenai korban.
Serangan yang semakin intensif ini terjadi sehari setelah AS mengumumkan akan menjadi mediator putaran kedua negosiali antara Israel dan Lebanon pada 14–15 Mei, meskipun ada tuntutan otoritas Lebanon agar pasukan Israel menghentikan serangan sebelum pembicaraan dimulai.
Negosiasi di Washington, DC akan memajukan “sebuah perjanjian perdamaian dan keamanan komprehensif yang secara substans