Gedung Putih sangat gencar mendorong program ini, namun reaksi masyarakat terbelah.
Argumen Gedung Putih adalah Rekening Trump memberikan jutaan anak akses untuk memiliki saham di AS. Menurut mereka, selama ini kepemilikan saham tidak merata karena banyak rumah tangga—terutama keluarga muda dan berpenghasilan rendah—hampir tidak punya akses sama sekali.
Namun, Will McBride, ekonom utama dari lembaga riset Tax Foundation, menilai program ini terlalu rumit untuk diikuti. Menurutnya, hanya “minoritas kecil yang akan mendapatkan manfaat.”
Ia menduga orang tua yang akan ambil bagian adalah mereka yang “cukup paham, cukup mampu, cukup melek informasi, dan urusannya rapi.”
Di sisi lain, Andy Blocker, kepala kebijakan di perusahaan jasa keuangan Edward Jones, percaya bahwa kontribusi awal sebesar 1.000 dolar untuk bayi yang lahir selama masa jabatan kedua Trump akan menghilangkan “hambatan karena tidak punya modal awal.”
Ia menambahkan, “Kalau pada akhir tahun lebih banyak keluarga memiliki jalur masuk yang jelas untuk mulai menabung dan berinvestasi demi masa depan keuangan anak-anak mereka, itu sudah sukses.”
Adam Michel, direktur kajian kebijakan pajak di Cato Institute, mengatakan ide program ini bagus, tetapi ia memperingatkan bahwa hasilnya “mungkin tidak sesuai dengan janji-janji besarnya.”
Menurutnya, manfaat utama cuma subsidi awal 1.000 dolar, dan banyak keluarga lebih baik menggunakan rekening tabungan biasa. Ia juga menyoroti hambatan seperti denda penarikan dini yang biasa terjadi di rekening tabungan lain. Anak-anak dari keluarga kurang mampu mungkin terpaksa mengambil uang itu saat berusia 18 tahun untuk “membantu biaya hidup”, sehingga harus membayar denda. “Rekening Trump tidak memperbaiki masalah itu.”