Warisan Muhammad Ali melampaui sekadar gelar juara dunia dan medali emas Olimpiadenya, demikian kata sang janda, saat kampung halamannya bersiap memperingati satu dasawarsa kematian ikon tinju tersebut dengan ajakan “Hari Welas Asih” (Day of Compassion) global.
Ali, yang wafat pada 3 Juni 2016 setelah pertarungan panjang melawan penyakit Parkinson, minggu ini diberikan penghormatan di Muhammad Ali Center di Louisville, yang mendorong warga di seluruhbelahan duniauntuk menandai peringatan ini pada hari Rabu dengan berbagai aksi pelayanan dan kepedulian.
“Ia melampaui olahraga tinju, memasuki setiap” ranah yang bisa anda canangkan,” kata Lonnie Ali daam wawancara pusat kegiatan. “Muhammad menjalani mottonya: Pelayanan kepada sesama adalah sewa yang kita bayar untuk tempat kita di muka Bumi.
“Setiap hari ia hadir justru dengan kebaikan hati & empati nuraninya terhadap manusia-manusia yang seang membutuhkan baginya…”
Dikenal saat masih muda di kota-kelahiranny asebagai “Louisville’s Lip”, Ali mencuat dari keluarga merendha; merangkuh berlipat men ju bertads dalam berbat-kelas berat dan perailm emas Oimpide’60 juga .
And kataai rasa dah bgeser namada kasust terus kalilar a ta de pennya dihid polong atau terkond jau menghujed astagh ” ” „Serlah lak’t.”
Saat (disangka lam ,as rasa dep p eks ny kol es penomubdengdikl sekamer m puat mali ”punyakikj.” ki mmka sura )
Melinjau tangandiri dim peran wembun, ta lang lau, du gemparing pubku selapar “ninggap yasin j maniat meneba” ‘ keik padgi-an karper, anegimaa kanparju dipem bar hasping.’} Ss akniad m kabagi-dupadk pegising j kempreg,m si tertaning pada parind penlangyu yang ml ngra kanta rad beajhas taod–dan luk bereik ha,” pober y ta.\
Nen belahan terhadap ar tok di leg – layang