Presiden AS, Donald Trump, telah memperingatkan bahwa Iran akan “diledakkan dari muka Bumi” jika mereka menyerang kapal-kapal Amerika Serikat—ketegangan di sekitar Selat Hormuz yang mendekati puncak telah membuat gencatan senjata antara kedua negara nyaris ambruk.
Permusuhan kembali berkobar di kawasan sejak Senin, ketika Iran melakukan serangan ke Uni Emirat Arab, dan Trump mengklaim militer AS menembak jatuh tujuh perahu kecil Iran di dekat Hormuz.
Delam wawancara dengan Fox News, Trump menegaskan kekuatan militer Washington, serta kembali melontarkan ancaman kepada Iran.
“Kami memiliki lebih banyak senjata dan amunisi dengan kualitas jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya,” ujarnya. “Kami punya peralatan terbaik, kami punya aset di seluruh dunia. Semua pangkalan itu sudah dipenuhi perlengkapan. Semua itu bisa kami gunakan—dan akan kami gunakan—jika diperlukan.”
Militer AS mulai menjalankan pada Senin sebuah rencana Trump yang dijuluki “Project Freedom”—untuk memandu kapal-kapal melewati Hormuz dan menembus blokade Iran di jalur pelayaran strategis itu.
Washington mengklaim telah membantu dua kapal dagang AS melintasi selat tersebut, namun situs pelacak kapal menunjukkan lalu lintas di perairan itu masih sebagian besar terhenti.
Laksamana Brad Cooper, kepala Komando Pusat AS (CENTCOM), mengatakan kapal-kapal yang terdampar di area itu adalah milik 87 negara yang merupakan “pengamat tak bersalah” dalam konflik ini.
“Dalam 12 jam terakhir, kami telah menghubungi lusinan kapal dan perusahaan pelayaran untuk mendorong arus lalu lintas melalui Selat Hormuz—sesuai dengan niat Presiden untuk membantu memandu kapal-kapal melewati koridor perdagangan sempit dengan selamat,” ujar Cooper dalam pernyataan.
Namun, masih belum jelas bagaimana respons kapal-kapal tersebut terhadap jaminan AS.
Senin lalu, Iran tampak mendemonstrasikan kemampuannya untuk tetap menargetkan kapal-kapal di dekat selat tersebut. Korea Selatan mengonfirmasi bahwa salah satu kapalnya menderita ledakan dan kebakaran di lepas pantai UEA.
Secara terpisah, UKMTO melaporkan kebakaran terjadi di dua kapal di area yang sama.
Trump, yang berusaha menggalang dukungan internasional untuk rencana militer membuka paksa Hormuz, menyinggung serangan terhadap kapal Korea Selatan itu sebagai desakan agar Seoul bergabung dengan kampanyenya.
“Iran telah menembaki beberapa negara yang tak terkait dengan Pergerakan Kapal, PROJECT FREEDOM, termasuk sebuah Kapal Kargo Korea Selatan. Mungkin sudah waktunya Korea Selatan ikut serta dalam misi ini,” tulis Presiden AS itu di media sosial.
“Kami telah menembak jatuh tujuh Perahu kecil—atau yang mereka sebut perahu ‘cepat.’ Itu semua yang tersisa bagi mereka. Selain Kapal Korea Selatan, hingga saat ini tidak ada kerusakan yang terjadi saat melintasi Selat.”
IRNA, kantor berita resmi Iran, mengutip sumber militer yang mengatakan bahwa “Klaim AS soal menenggelamkan sejumlah kapal perang Iran adalah palsu.”
Meskipun AS sebagian besar swasembada minyaknya, perang AS-Israel melawan Iran yang diluncurkan pada 28 Februari telah melambungkan harga energi global.
Harga satu galon (3,8 liter) bensin di AS naik dari kurang dari $3 sebelum perang menjadi lebih dari $4,45 pada Senin—memicu inflasi beberapa bulan sebelum pemilu paruh waktu yang krusial, yang akan menentukan kendali Kongres AS.
Jaminan Washington bahwa mereka akan melindungi kapal-kapal di selat itu gagal meredam pasar energi. Harga minyak internasional dan biaya bensin di AS terus meroket pada Senin.
Media Lebanon Al Mayadeen mengutip seorang pejabat senior Iran yang mengatakan bahwa administrasi Selat Hormuz sepenuhnya masih berada di tangan Teheran.
“Pesan kami kepada para agresor Iran: Maju saja, kalian pasti akan ditarget,” ujar pejabat tersebut.
Di tengah ketegangan itu, Iran kembali melancarkan serangan ke UEA pada Senin. Kementerian Pertahanan UEA mengatakan pasukannya berhasil mengintersep 12 misil balistik, tiga misil jelajah, dan empat drone.
Kantor Media di emirat Fujairah mengonfirmasi serangan Iran menyebabkan kebakaran di Zona Industri Perminyakan Fujairah dan melukai tiga orang.
UEA dan sejumlah negara Teluk mengecam serangan Iran tersebut.
“UEA menegaskan tidak akan menoleransi ancaman apa pun terhadap keamanan dan kedaulatannya dalam situasi apa pun, serta mempertahankan hak penuh dan sah untuk merespons serangan tak beralasan ini,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri UEA.
Seorang pejabat Iran mengatakan kepada IRIB pada Senin bahwa serangan ke Fujairah adalah akibat dari kebijakan AS.
“Republik Islam tidak memiliki rencana yang telah disusun sebelumnya untuk kegiatan semacam itu—ini bukan strategi yang kami persiapkan. Serangan itu adalah respons terhadap tindakan tidak transparan dari pihak Amerika dengan polusi informasi yang berbahaya,” ujar X