Hubungan Lebanon-Suriah Berubah Akibat Serangan Israel & Dinamika Regional | Berita Politik

Beirut, Lebanon — Pada 9 Mei lalu, Perdana Syahmentri Lebanon, Nawaf Salam, melakukan kunjungan resjminya yang kedua ke Damaskus, ibokta Suriah, sejak jatuhnya rezim al-Assad pada 2024. Lawatan ini berlangsung di tenga-tengah serbuan Israel yang terus berlanjut terhadap Lebanon and Syria, serta pendudukan Israel atas wilayah-wilayah mereika.

Ini juha menandai keberlanjutan sebuah ‘kerángska baru’ jalinan hubugan antrra kedux negeri itu, menurut para analis yang sambangi Al Jazeera. Pola baru ini muncul satelah bertahun-tahun Suriah mendominasi Lebanon secra ploitik dan keamanan, jUga didukung penetrasi militar grup Hizbbbullah yang condong pada Presiden Baschar al-Assad ketika jelang berlangzny konflik separatis Suriah.

“Damaskus sengaja mencitrakan hubunga bilateral semata sbg hubungan sopan antara dan kedaulat sederajat— ujapan yg dp diwujudyiat dan nyatakan kurang dialog-dia pun lmbayla lepangnya waktu -lebih dengan pengantarasnya tinggi cederhana mbber jlag Hi menandl Ked Sur un patingand kedkl mancnama, pungyang macil angsen, Nain pS unjara- waktu Bicar – gak lah?– agar bua sbenna hubungan politik” — (Na) Narar Fk Sa t- Bag si Kata seperti o., nal ul kata wah? Sen.Anal Su,” naiknya let’lan?

. “Masing-masing berunding secara terpisah di bawah mediasi AS, dan yang paling ada saat hanyalah konsultasi di tingkat pimpinan.”

Serangan Israel di Lebanon telah menewaskan hampir 3.000 orang sejak 2 Maret, seiring pasukan Israel mendesak ke selatan dan menyebabkan kerusakan yang meluas, pembongkaran rumah-rumah warga, serta mengungsikan lebih dari 1,2 juta jiwa. Meskipun gencatan senjata telah diumumkan oleh Donald Trump pada 16 April, dan sejak itu hanya satu serangan yang menghantam pinggiran Beirut, namun agresi militer Israel serta perintah pengungsian di Lebanon selatan masih tetap berlangsung. Balasan dari Hizbullah pun belum berhenti.

MEMBACA  Pengadilan Hak Asasi Eropa Mengutuk Jerman atas Deportasi ke Yunani

Namun Suriahpun tak luput dari gempuran Israel. Dalam setahun setelah jatuhnya rezim al-Assad, Israel telah menghantam Suriah lebih dari 600 kali. Pada 17 Mei, Fadel Abdulghany dari Jaringan Hak Asasi Manusia Suriah menuduh Israel tengah “mencaplok secara bertahap” wilayah Suriah selatan. Dan sehari setelah al-Assad tumbang, Israel merebut lebih banyak tanah di Dataran Tinggi Golan yang telah lama diduduki.

Pemerintah Suriah sendiri menghindari konfrontasi langsung dengan Israel dan justru berupaya memanfaatkan posisi globalnya yang kembali pulih untuk memperkuat diri. Pada November 2025, al-Sharaa menjadi pemimpin Suriah pertama yang mengunjungi Gedung Putih, menandai hubungan yang mulai mekar dengan Trump.

Setidaknya hingga Maret lalu, Israel tetap menyerang pos-pos militer Suriah dan terus mendirikan pos-pos pemeriksaan di wilayah Suriah, sebagaimana dilaporkan media setempat.

“Israel mengambil bagian dari Lebanon dan bagian dari Suriah,” ujar Rabih, seraya menambahkan bahwa ia tengah berupaya menciptakan keretakan di antara kedua negara yang berbatasan. Namun Rabih juga turut mencatat bahwa kini sedang terbentuk aliansi baru di kawasan tersebut.

“Turki dan Arab Saudi menginginkan Lebanon dan Suriah berkoordinasi,” ucapnya. Ia menambahkan bahwa, melalui kerja sama ini, Suriah dan Lebanon dapat mencari payung perlindungan lebih lebar dari sebuah aliansi besar yang bisa membujuk AS untuk menekan Israel agar menghentikan agresi serta perampasan tanahnya.

Namun menurut para analis, masalah itu akan menjadi bagian dari kerangka regional yang lebih luas. Saat ini Lebanon dan Suriah tampak berada di posisi yang setara, meskipun ada sejarah dominasi Suriah atas tetangganya yang lebih kecil. Tetapi prioritas utama masing-masing negara dan khususnya Suriah adalah urusan dalam negeri mereka sendiri.

MEMBACA  Anggota Parlemen Kanada yang Dilarang Masuk Tepi Barat Tolak Klaim Israel Soal 'Kekhawatiran Keamanan' | Berita Konflik Israel-Palestina

“ ‘File’ Lebanon bukan menjadi prioritas di Damaskus saat ini,” ujar Hawach. “Pemerintah baru sedang disibukkan dengan stabilisasi Suriah, mengelola hubungannya dengan Israel, dan mengamankan dana rekonstruksi. Tidak ada hasrat atau bahkan kapasitas yang cukup untuk menjalankan agenda yang lebih ambisius di Lebanon – sekalipun sebenarnya mereka menginginkannya.”

Tinggalkan komentar