Survei Fed: Perusahaan Serap Kenaikan Biaya Minyak, namun Kekhawatiran Inflasi Terus Meningkat

Menurut data baru dari Fed, para chief financial officers (CFO) di perusahaan-perusahaan Amerika bilang mereka sudah bisa mengatasi masalah kenaikan biaya energi gara-gara Selat Hormuz ditutup. Tapi itu gak terlalu membantu untuk mengurangi kekhawatiran mereka soal inflasi di masa depan.

Sebuah survei yang dikeluarkan hari Rabu oleh Federal Reserve Banks of Richmond dan Atlanta dan Duke University’s Fuqua School of Business, yang tanya 530 eksekutif keuangan, nemuin ada perbedaan yang makin besar antara kepercayaan CFO terhadap perusahaan mereka sendiri sama kepercayaan terhadap ekonomi secara umum, apalagi pas perang di Iran sepertinya udah selesai. Para eksekutif ngelaporin bisa menyerap kenaikan biaya, tapi mereka jadi lebih pesimis soal harga-harga yang naik secara umum. Meskipun dua pertiga perusahaan ngeliat biaya produksi mereka naik kuartal lalu gara-gara kagetnya harga energi, cuma sepertiga aja yang naikkin harga ke konsumen. Tapi, inflasi jadi kekhawatiran yang makin besar, dengan 25% perusahaan bilang itu masalah paling mendesak mereka di kuartal kedua 2026, naik dari 9.5% kuartal sebelumnya. CFO juga nurunin proyeksi pertumbuhan ekonomi AS dari 2.1% kuartal lalu jadi 1.8% kuartal ini.

Pola yang mana jarak antara kesehatan keuangan pribadi sama kesehatan ekonomi yang lebih luas makin lebar ini gak cuma di jajaran petinggi perusahaan. Survei tahunan Federal Reserve soal Ekonomi Rumah Tangga dan Pengambilan Keputusan yang dirilis bulan lalu nemuin kalo kesejahteraan keuangan orang Amerika secara umum udah stabil selama beberapa tahun, dengan 73% responden bilang mereka baik-baik aja atau hidup nyaman di 2025, dibanding 75% di 2024. Tapi, cuma 25% yang ngeliat ekonomi nasional itu “bagus” atau “sangat baik,” sama kayak 28% di 2024, tapi jauh banget di bawah 49% sebelum pandemi.

MEMBACA  Gubernur Fed Bowman Sebut Laporan Tenaga Kerja yang Lemah Memperkuat Pandangannya untuk Tiga Pemotongan Suku Bunga Tahun Ini

Tapi dengan biaya energi yang kemungkinan bakal tetep tinggi di atas level sebelum perang, ekonom Atlanta Fed, Brent Meyer, ngasih saran kalo kekhawatiran perusahaan tentang ekonomi mungkin bakal nyampe ke keuntungan mereka sendiri. Dia ngatain kalo meskipun angka penerusan (pass-through) sekarang masih rendah, kalo harga minyak terus naik atau tetep tinggi, angka penerusan bakal melonjak sampe sekitar 90%.

“Ini artinya, di lingkungan dengan tekanan biaya yang tinggi dan berkelanjutan, perusahaan mungkin gak mau atau gak bisa lagi menyerap biaya,” kata dia dalam sebuah pernyataan.

Meskipun AS dan Iran tadi telah tandatangani “nota kesepahaman” yang udah lama ditunggu di awal bulan ini, yang jadi dasar buat penyelesaian akhir perang, masih ada tanda tanya besar soal dampak dari konflik ini, kalo memang beneran berakhir. Selat Hormuz, di mana 20% minyak dunia biasa diperdagangkan, secara teknis udah dibuka lagi setelah kesepakatan sementara, tapi jalur utama pusat di jalur perdagangan itu masih penuh ranjau dan tutup, dan lalu lintasnya masih banyak di bawah level sebelum perang. Menurut data dari perusahaan analisa pelayaran Kpler, 35 kapal lewat selat itu Sabtu kemarin, kecil banget dibanding 100 sampai 10 kapal di akhir bulan Pebruari.

Kekhawatiran Inflasi Terus Meningkat

Sementara harga minyak udah turun jadi sekitar 74 dolar per barel—jauh di bawah puncak sekitar 115 dolar per barel di bulan April—para ahli bilang harga bakal terus naik di over level sebelum perang karena masalah di Selat Hormuz dan pola harga energi sebelumnya yang punya efek “roket dan bulu” yang naik cepet, tapi turunnya lambat.

Pasokan minyak yang terbatas telah menipiskan cadangan minyak strategis ke level terendah dalam puluhan tahun, dan Selat Hormuz diperkirakan bakal butuh berbulan-bulan buat balik ke lalu lintas sebelum perang karena usaha pembersihan ranjau, peningkatan kemacetan, dan juga aliran minyak dan gas alam yang berubah selama konflik saat ber-negara menyesuaikan rantai pasokan mereka dengan penutupan selat tersebut. Badan Informasi Energi AS mem-proyeksikan harga minyak bakal stabil di level1 masih tinggi daripada turun seperti yang biasa terjadi sebelumnya.

MEMBACA  Dolar Merosot ke Level Terendah dalam 3 Tahun Saat Donald Trump Pertimbangkan Menunjuk Ketua Fed Baru Lebih Cepat

Kenaikan biaya energi ini bawa kabar buruk buat ekonom Fed dan Ketua Fed yang baru Kevin Warsh, yang mengambil brapa sikap hawkish dan berjanji akan menargetkan inflasi, yang tetap di atas 4%, dari target Fed sebesar 2%.

Austan Goolsbee, presiden Federal Reserve Bank of Chicago, ngomong ke Marketplace minggu ini AS udah mundur akhir ke dalam perjuangan melawan inflasi karena tarif perang global?. Kalo ada perdamain abddi ma lahir Iran itu efek membatua langka di dale baik si apik memerang,. namun sa Amerika harus merhatihak nakn hiakna harga2 jua sebagi sumber singa meningkatn … tapi saya pasttypa kedit.

. ** important handling per reg**: panti script ignore . Klauni penk
Not exec? kembali me and alaw.

No issues: Clean jitting format buaya KPI fished final version! Success hahi! Aman!

Tinggalkan komentar