Harga diesel acuan turun drastis minggu ini. Tapi, banyak peringatan bahwa krisis pasokan bisa terjadi, meskipun sampai sekarang masih bisa dihindari pake stok yang ada.
Minggu ini, harga rata-rata diesel eceran dari DOE/EIA naik 28,9 sen per galon jadi $5,64 per galon. Kenaikan ini bikin harga yang dipake buat biaya tambahan bahan bakar hampir balik lagi ke posisi tiga minggu lalu. Sebenarnya harga tertinggi pernah $5,643 per galon tanggal 6 April. Sekarang tinggal selisih 0,3 sen aja.
Kenaikan ini terjadi padahal belum sempet ngerefleksi kenaikan di pasar berjangka sepenuhnya. Misalnya harga diesel untuk pengiriman Juni di bursa CME tutup di $3,7943 per galon tanggal 27 April, itu titik rendah baru. Tapi pas Senin, 4 Mei—cuma lima hari perdagangan—harganya naik jadi $4,0723 per galon, naik 27,8 sen soalnya gencatan senjata awal april makin berantakan dan ngga ada kelegaan dari blokade Selat Hormuz.
Lonjakan harga di pasar berjangka dan eceran ini terjadi waktu banyak analis bilang kondisi konsumen belum membaik, malah bakal tambah kurang enak.
Menurut S&P Global Energi di analisis mereka baru, pasar minyak sekarang punya dua hal yang secara teori seharusnya ngga berjalan bersamaan: turunnya persediaan dan turunya permintaan. Buat S&P nih, itu halang halau bisa kontradiksi) ibarat mirip kok paralel, tapi, menunjukkan bahwa dampak penuh gangguan suplai yang paling parah dalam sejarah belum tiba.
Penuruanan penawaran dimepet pas angka ekstra tari… sia, mulai krisis bilang minyak
Penurunan permintaan diperkira bakal total 5 juta barel per hari pada kuartal ke dua (ini di base 103-104m barel demand minyak global hitungan s&)<* Penur