Mungkin lalat buah itu lagi ngumpul di adonan sourdough yang fermentasi, atau ngirus pisang yang udah mau lembek. Tapi, buat ilmuwan biomedis kayak Caíque Costa, lalat buah bukan buat dipukul—mereka bisa jadi awal dari penemuan besar soal kanker.
“Orang kalo mikirin ilmuwan, pasti gak kepikiran lalat buah,” kata Costa. “Lalat yang sama yang ganggu barbekyu kamu di hari Minggu, atau pisang di dapur kamu.”
Ada dua hal yang benar—lalat buah yang nyebelin itu ternyata model yang bagus buat riset kanker.
Selama saya nulis soal AI dan riset ilmiah—termasuk artikel tentang Demis Hassabis dan Isomorphic Labs—saya denger banyak soal efisiensi yang bisa dibawa AI. Tapi saya juga penasaran apa aja yang gak bisa diperbaikin AI, karena banyak proses sains itu capek dan membosankan. Makanya saya tertarik sama perusahaan Costa, FlyFast, dimulai pada 2024. Perusahaan kecil ini baru tahap awal, dari penelitian Costa soal gen kanker pake lalat buah.
“Mereka punya banyak kemiripan genetik dengan manusia,” jelas Costa, yang lulus S1 dari Bahiana School of Medicine and Public Health di Brazil dan S3 dari Tulane tahun 2025. Manusia dan lalat buah punya sekitar 60% gen yang sama. Tapi buat gen penyakit, lebih tinggi lagi—sampai 85%. “Lalat buah tuh model yang cepet buat dapetin hasil,” kata Costa ke Fortune. “Mereka murah dipelihara dan gampang ditangani.”
Menurut Costa, lalat buah sebenarnya gampang aja, kecuali satu hal: ngasih makannya itu kerja berat banget.
Gini caranya: ilmuwan nyimpan ribuan lalat dalam ratusan botol. Sebulan sekali, makanannya basi—harus pindahin botol satu-satu dengan tangan. Gak semudah kedengaran: lalat bisa kabur. Satu per satu, pemindahannya pake ketokan atau CO2 biar lalatnya pingsan.
Di seluruh dunia, ada sekitar 4.000 lab lalat buah. Jadi menghabiskan ratusan jam setahun buat peneliti pindahkin lalat manual. Costa perkirakan labnya bisa habis 800 jam setahun.
Buat Costa, ini bener-bener konyol. Tahun 2023, bangun prototipe pakai stik, sedotan, karen, dan klip. Lalu bikin alat yang bisa mindahin 10 botol dalam satu waktu.
“Sains punya dua tujuan,” kata Costa. “Memahami alam, dan bikin hidup orang gampng—ini menurut saya untuk semua hal.
Costa ngajarin kita bahwa sebagian jawaban di depaan bagi item lain