Seorang karyawan mendapat pesan dari bosnya, tapi dia tidak begitu paham maksudnya. Dia curiga pesan itu ditulis oleh AI, jadi dia minta tolong ke alat AI-nya untuk mengartikan pesan tersebut. AI-nya menjawab, lalu menawarkan untuk membuatkan draf balasan untuk bosnya.
Karyawan itu berhenti sejenak. Katanya, “Saya benar-benar berpikir AI bos saya sedang ngobrol dengan AI saya. Itulah percakapan yang sebenarnya terjadi sekarang.” Dia bilang ke Leena Rinne, wakil presiden bagian kepemimpinan di Skillsoft, bahwa dia tidak bisa memahami cara kerja dengan bosnya karena yang bolak-balik cuma AI mereka.
Rinne menyebut fenomena ini “social offloading,” yaitu saat kemampuan antar manusia yang butuh penilaian, empati, atau keberanian dilimpahkan ke AI. Ini mirip dengan “cognitive offloading,” saat kita menyerahkan tugas-tugas ringan ke teknologi untuk mengurangi kerja otak. Hal ini bisa mengganggu budaya kerja di kantor.
Contoh social offloading adalah saat seorang bos bersiap untuk review kinerja dan bertanya ke AI bagaimana cara membicarakannya. Atau, bisa juga seorang karyawan minta AI untuk membuat balasan surel yang menegangkan dari manajer.
“Kalau saya selalu tanya AI bagaimana cara merespons bos saya,” kata Rinne ke Fortune, “saya tidak benar-benar belajar cara berinteraksi dengan bos saya. Saya tidak belajar cara membangun hubungan dengan dia.”
Manusia makin sering pakai AI untuk hal-hal yang lebih manusiawi, seperti terapi dan teman ngobrol. Menurut Rinne, masalahnya bukan karena AI tidak memberi saran yang berguna, tapi karena kita bisa kehilangan kemampuan saat terlalu bergantung padanya.
Rinne bilang, risikonya adalah kita tidak mengembangkan kemampuan penting yang bisa dipakai langsung. Kita jadi tidak tahu cara mengelola kecerdasan emosional, karena AI yang melakukannya untuk kita.
Skillsoft sendiri memakai dan menjual alat AI ke pelanggan. Tapi alat mereka, namanya CAISY, dirancang untuk melatih orang supaya bisa bicara di dunia nyata. Alat ini kasih latihan dan masukan sebelum kita melakukan percakapan penting di kerja.
Alih-alih langsung kasih jawaban, AI ini mengajari orang bagaimana mengembangkan kemampuan pribadi. Rinne bilang, “Saya benar-benar membangun kemampuan saya untuk menghadapi percakapan sulit atau percakapan dengan klien karena saya sudah berlatih.”
Rinne bilang, AI bukanlah penyebab masalah. Masalah sebenarnya adalah kurangnya kepemimpinan. Banyak perusahaan sudah memotong posisi manajer menengah. Akibatnya, bimbingan dan pelatihan jadi berkurang.
Contohnya Meta. Perusahaan itu sudah memotong 25.000 pekerja sejak 2022. Tim AI mereka punya satu bos untuk 50 insinyur. Biasanya, batas normal adalah satu bos untuk 25 karyawan. Tapi dengan AI, perusahaan mendorong batas manajemen itu.
Ada juga perusahaan IT konsultan seperti Cognizant. Mereka giat merekrut karyawan baru. CEO-nya bilang, dengan AI, perusahaan bisa merekrut lulusan baru dan membuat mereka jadi ahli lebih cepat. Dengan flatten struktur, keahlian antarbidang jadi lebih penting.
Dari sisi organisasi, lebih sedikit manajer bisa bikin keputusan lebih cepat. Tapi, manajer masih dibutuhkan untuk mengubah strategi jadi hasil nyata, mengembangkan bakat, dan menyatukan tim. Risiko terbesarnya adalah menganggap urusan kepemimpinan seperti soal matematika, padahal itu soal kemampuan.
Generasi lain sudah punya puluhan tahun untuk belajar beradaptasi. Tapi karyawan muda sekarang langsung dilempar ke dunia kerja yang sulit. Beberapa orang menyalahkan generasi muda karena kurang bergaul. Menurut Tessa West, seorang profesor psikologi, kemampuan dari hubungan awal seperti negosiasi dan kompromi sangat berguna di tempat kerja.
Bahkan hubungan percintaan tidak bisa mengisi celah antara karyawan dan bos. Rinne bilang, pengalaman dia dibimbing dulu sangat membantu jadi pemimpin sekarang. Menurutnya, gen Z langsung disangka sudah siap menghadapi perubahan karena mereka tumbuh di era digital. Padahal, para pemimpin tidak benar-benar membekali mereka untuk berkomunikasi dan memiliki penilaian yang baik. Akibatnya, daya saing mereka berkurang, apalagi di era AI yang butuh kemampuan manusiawi.
“Kami seperti berharap mereka masuk ke dunia yang kacau dan bisa melewatinya dengan baik,” kata Rinne. Kisah ini pertama kali tayang di Fortune.com pada 28 Maret 2026.
Lebih banyak tentang AI di tempat kerja:
Masalah moral di perusahaan teknologi besar mungkin terkait dengan Claude Code yang membuat pekerjaan terasa lebih “sepi.”
Perusahaan saat ini meluncurkan ratusan proyek dengan AI. Jumlah proyek yang banyak ini mulai menjadi masalah.
Anne Hathaway pernah menolak kandidat pekerjaan yang menggunakan AI untuk menulis surat terima kasih setelah wawancara.
Artikel ini aslinya muncul di Fortune.com.