Masa Depan CEO, Terhapus: Dampak Ekonomi dari Hilangnya Perempuan Kulit Hitam di Dunia Kerja

Tahun 2025 akan dikenang karena perubahan besar dalam kesetaraan pekerja: hampir 300.000 perempuan kulit hitam keluar dari angkatan kerja—memperparah situasi yang sudah buruk.

Ini bukan fluktuasi musiman atau catatan kecil di statistik. Ini adalah kegagalan strategis dengan konsekuensi jangka panjang.

Perempuan kulit hitam lama menjadi tulang punggung ekonomi Amerika—mendorong partisipasi, menggerakkan industri penting, dan menopang pendapatan keluarga. Sekarang, fondasi itu retak. Dampaknya bukan cuma jangka pendek—ini ancaman langsung untuk perencanaan suksesi perusahaan, inovasi, dan pertumbuhan. Ekonomi AS selalu bergantung pada tenaga kerja perempuan kulit hitam. Faktanya, tidak ada kelompok perempuan di Amerika yang punya tingkat partisipasi kerja lebih tinggi daripada perempuan kulit hitam. Tapi hari ini, mereka menghilang dari dunia kerja dengan cepat—tanpa banyak perhatian atau tindakan.

Akibatnya? Krisis suksesi perusahaan yang perlahan. Karena ketika perusahaan kehilangan perempuan kulit hitam hari ini, mereka tidak cuma kehilangan pekerja hebat—tapi juga calon pemimpin masa depan.

Jurang kepemimpinan semakin dalam

Di tahun 2025, perempuan kulit hitam mencakup sekitar 6,4% angkatan kerja AS. Tapi mereka hanya 0,4% dari CEO Fortune 500.

Ini bukan kesenjangan representasi. Ini runtuhnya jalur karier.

Dan keluarnya mereka tahun ini bisa memperparah situasi. Antara Februari dan Juni 2025, partisipasi kerja perempuan kulit hitam turun 1,8 persen—setara dengan kerugian GDP $37,2 miliar. Bulan Februari saja, 266.000 perempuan kulit hitam kehilangan pekerjaan—penurunan terbesar dibanding kelompok lain.

Jika kita serius soal kepemimpinan inklusif, angka ini harus jadi peringatan untuk semua perusahaan.

Karena perusahaan tidak bisa membuat C-suite beragam dengan talenta yang sudah tidak ada.

Ini bukan masalah teoritis. Manajer menengah hari ini adalah wakil presiden masa depan. Direktur hari ini adalah CEO masa depan. Tingkat attrition sekarang menghapus perempuan kulit hitam dari jalur itu sebelum mereka sampai di titik penting.

MEMBACA  Yang Dapat Diharapkan dari Laporan Keuangan Netflix Berikutnya

Penyebab eksodus—dan kenapa makin parah

Alasan perempuan kulit hitam keluar dari pekerjaan jelas dan terukur:

1. Pengurangan program DEI seperti sinyal penolakan. Setelah kemajuan bertahun-tahun, di 2025 banyak perusahaan mengubah arah. Program DEI dikurangi atau dihapus. Ketika inklusi jadi pilihan, pesannya jelas: mereka tidak diinginkan.

2. Perempuan kulit hitam paling terdampak PHK lagi. Di sektor seperti pendidikan, pemerintahan, dan kesehatan, mereka banyak di posisi rawan PHK tapi sedikit di posisi aman. Ini bukan cuma kehilangan pekerjaan—tapi gangguan karier.

3. Beban bias dan burnout mempercepat keluarnya mereka. Perempuan kulit hitam sering alami diskriminasi di tempat kerja. Banyak yang memilih wirausaha bukan karena passion, tapi untuk bertahan hidup.

4. Fleksibilitas rendah memaksa pilihan sulit. Lebih dari 51% rumah tangga kulit hitam dengan anak diurus oleh ibu pencari nafkah, tapi mereka hanya dapat 44 sen untuk setiap dolar yang diterima ayah kulit putih. Mereka sering di pekerjaan kaku dengan upah rendah.

5. Serangan politik terhadap kesetaraan jadi masalah. Politisasi DEI bikin banyak perusahaan mundur dari komitmen keadilan rasial. Biaya mundur bukan cuma reputasi—tapi juga finansial.

Dampak kelambanan perusahaan

Ini bukan cuma masalah keragaman. Ini masalah produktivitas dan keuntungan.

Kehilangan perempuan kulit hitam berarti kehilangan talenta, perspektif, dan potensi kepemimpinan. Juga kehilangan uang banyak.

Contoh:

● Menutup kesenjangan pendapatan bisa tambah GDP $300 miliar dan ciptakan 1,2 juta pekerjaan.

● Tim eksekutif yang beragam lebih mungkin unggul dalam inovasi.

● 56% pekerja Gen Z tidak mau kerja di perusahaan tanpa keragaman kepemimpinan.

Tapi banyak perusahaan anggap ini masalah sementara. Padahal tidak.

Pipelines kepemimpinan tidak pulih sendiri. Butuh dekade untuk perbaiki. Setiap talenta yang keluar hari ini adalah calon pemimpin yang hilang di masa depan.

MEMBACA  Boeing Starliner Kembali ke Rumah dengan Masa Depan yang Tidak Pasti

Yang harus berubah—dan kenapa sekarang

Perusahaan yang mau bersaing harus bertindak sekarang:

● Lacak attrition dan promosi berdasarkan ras & gender di semua level.

● Terapkan transparansi gaji dan perbaiki kesenjangan.

● Investasi program sponsorship yang beri akses ke kekuasaan.

● Tetap pada komitmen kesetaraan meski tidak populer.

Ini saatnya bertindak. Perempuan kulit hitam selalu berkontribusi untuk ekonomi. Jika perusahaan tidak dukung mereka sekarang, artinya mereka mengorbankan inovasi dan pertumbuhan sendiri.

Karena ketika perempuan kulit hitam keluar dari pekerjaan, kita tidak cuma kehilangan produktivitas. Kita kehilangan CEO masa depan.