Ekonomi Amerika Serikat masih tumbuh kuat. PHK tidak meningkat tajam. Pasar saham terus naik. Tapi, ketika data terbaru tenaga kerja dirilis Selasa, salah satu ekonom paling dihormati di negara itu bilang itu bikin perutnya sakit.
“Bikin ngeri,” kata Diane Swonk, kepala ekonom di KPMG, kepada Fortune. “Kita tumbuh, tapi tidak bisa menciptakan lapangan pekerjaan.”
### Perekrutan yang “Sangat Rendah”
Dua laporan—Survey Lowongan Kerja dan Perpindahan Tenaga Kerja (JOLTS) bulan November dan laporan penggajian swasta ADP bulan Desember—menceritakan kisah yang sama dari sudut berbeda. Permintaan perekrutan mendingin cepat, pergerakan pekerja macet, tapi perusahaan juga masih enggan memotong karyawan. Hasilnya adalah pasar tenaga kerja yang macet dalam keseimbangan aneh di akhir siklus.
Mulai dari data JOLTS pemerintah. Lowongan kerja turun ke sekitar 7.1 juta di November, turun tajam dari Oktober. Angka “quit rate,” yang jadi barometer kepercayaan pekerja, mandek di 2.0%. Ekonom belum lihat tingkat kemacetan seperti ini sejak 2014.
Di ekonomi sehat, orang pindah kerja untuk gaji lebih tinggi. Sekarang, pekerja “bertahan” di pekerjaan mereka karena takut. Kurangnya pergerakan ini menciptakan jebakan mobilitas. Data ADP tunjukkan kenaikan gaji untuk yang pindah kerja mencapai 6.6% di Desember, tapi Swonk bilang ini hanya untuk sedikit talenta AI spesialis. Rata-rata pekerja sulit dapat kenaikan gaji dengan pindah kerja.
Keadaan “beku” ini juga terlihat dari angka “pemisahan lain” seperti pensiun dan mutasii yang turun ke 232.000 di November. “Pekerja tua semakin lama tetap di pasar kerja,” tulis Nicole Bachaud dari ZipRecruiter, karena harapan hidup naik dan tekanan pada tabungan pensiun. Banyak baby boomer tidak bisa menikmati masa pensiun mereka di ekonomi ini.
Orang tidak pensiun, tidak pindah, dan tidak berhenti kerja. Pasar tenaga kerja macet dalam ketidakseimbangan aneh di mana perekrutan di level “sangat rendah,” tapi PHK juga tetap rendah karena perusahaan pelit melepas pekerja yang ada.
Ekonom bilang alasannya adalah campuran dari kehati-hatian pasca pandemi dan kelangkaan tenaga kerja yang tersisa. Setelah tahun-tahun sulit saat “Great Resignation,” banyak perusahaan tampaknya bertekad tidak melepas karyawan mereka, meski diam-diam berhenti merekrut yang baru.
“Kita kelebihan staf setelah pandemi, jadi saya lihat ini seperti efek hangover dari gelombang perekrutan saat ekonomi dibuka lagi,” kata Swonk.
### Kesenjangan Upah yang Melebar
Data terbaru dari Bank of America Institute tunjukkan bagaimana stagnasi ini berdampak beda pada kelompok pendapatan berbeda. Di Desember, rumah tangga berpendapatan tinggi melihat pertumbuhan upah bersih 3.0%, sementara pertumbuhan pendapatan menengah turun ke hanya 1.5%—titik terendah sejak Mei 2024. Untuk rumah tangga berpendapatan rendah, situasinya lebih ketat di 1.1%.
Dengan inflasi yang masih ada, ini berarti keluarga berpendapatan menengah dan rendah melihat pertumbuhan upah riil yang negatif. Mereka bekerja di ekonomi yang tumbuh di grafik, tapi merasa lebih miskin dengan setiap gajian. Pemisahan “berbentuk K” ini memicu perbedaan belanja di mana rumah tangga kaya menjaga ekonomi “tumbuh” lewat perjalanan dan layanan mewah, sementara 80% terbawah kesulitan memenuhi kebutuhan.
Pembelahan ekonomi ini juga berdampak fisik di beberapa bagian negara. Laporan ADP Desember mengungkap krisis lokal besar: wilayah Barat kehilangan 61.000 pekerjaan dalam satu bulan. Runtuhan ini didorong oleh sektor teknologi di wilayah Pasifik. Swonk tunjuk ini sebagai bukti “pertumbuhan tanpa pekerjaan,” di mana perusahaan memanfaatkan efisiensi. Perusahaan secara agresif memotong peran pendukung kantoran dan posisi manajemen menengah yang dulunya tulang punggung kelas menengah.
Apakah pemotongan itu mencerminkan keuntungan produktivitas asli dari AI—atau hanya koreksi yang telat setelah perekrutan berlebihan pasca pandemi—masih belum jelas, kata Swonk.
### Bangku Satu Kaki yang Rapuh dan Sedikit Harapan
Mungkin yang paling memperihatinkan bagi para ahli adalah betapa sempit dasar pertumbuhan ekonomi kita. Untuk sebagian besar akhir 2025, pasar tenaga kerja ditopang oleh satu sektor saja: Pendidikan dan Layanan Kesehatan, yang menambah 39.000 pekerjaan di Desember. Swonk sebut ini sebagai “bangku satu kaki” yang akhirnya mulai goyah, terutama saat subsidi penitipan anak dibekukan dan sektor publik menghadapi tekanan margin dari tarif.
Di tengah berita yang mencemaskan ini, analis sedang mencari titik dasar. BoFA mencatat bahwa meskipun pasar tenaga kerja berada dalam mode “low-hire, low-fire” (perekrutan rendah, pemecatan rendah), sedikit peningkatan dalam perkiraan penggajian mereka pada Desember mungkin menunjukkan bahwa “masa terburuk perlambatan sudah di belakang kita.” Laporan mereka menyarankan kemungkinan bahwa perlambatan pasar tenaga kerja telah “menjalankan perannya” dan bahwa perlambatan pertumbuhan upah bagi berpenghasilan rendah akhirnya telah stabil.
Namun, prospek untuk sisa tahun 2026 tetap tenang. Jeffrey Roach, Kepala Ekonom untuk LPL Financial, menulis bahwa dia memperkirakan pertumbuhan penggajian swasta bulanan akan stabil di angka yang kecil, yaitu 50.000 untuk sebagian besar tahun. Dia menyatakan optimis bahwa pertumbuhan penggajian swasta mungkin telah “mencapai titik terendah,” tetapi grafiknya berbicara banyak tentang penurunan perekrutan yang sangat tajam.
Meskipun “sugar high” sementara dari pengembalian pajak dan kenaikan upah minimum di 19 negara bagian mungkin memberikan dorongan jangka pendek untuk pengeluaran, Swonk mengatakan bantuan itu akan berlangsung singkat. Perekonomian, dalam kondisinya saat ini, sangat rentan terhadap koreksi pasar.
“Jika ada sesuatu yang merupakan guncangan negatif yang menimpa 20% teratas, Anda akan menurunkan pengeluaran konsumen dengan cukup cepat,” kata Swonk. “Dan itu adalah dua pertiga dari perekonomian.”