Pada 20 Mai, Grab mengumumkan bahwa robot mereka Bernama Carri, akan mulai melakukan pengiriman di daerah Punggol Singapura, yang merupakan pusat uji coba layanan robotik di negara kota ini.
Tapi Carri sudah beroperasi di lorong-lorong kantor pusat Grab di Singapura, kata chief technology officer Suthen Paradatheth. Dan Carri tidak sendirian. “Kami tidak mewajibkan unit bisnis kami untuk hanya menggunakan robot kami,” kata Paradatheth pada Fortune dalam wawancara di sela-sela summit Asia Tech (ATx). “Kalau kamu pergi ke kantor Grab sekarang, kamu akan lihat robot dari perusahaan lain juga. Kami pakai strategi 1+n yang bikin kami tetap waspada.”
Paradatheth sudah terlibat dengan Grab sejak awal banget, bahkan sebelum perusahaan ini punya nama. Dia bergabung dengan perusahaan yang saat itu masih bernama MyTeksi, sebuah layanan ride-hailing berbasis di Malaysia, sebagai konsultan paruh waktu setelah seorang teman bersama memperkenalkannya kepada pendiri perusahaan, Anthony Tan dan Tan Hooi Ling.
“Misi kami adalah membuat taksi lebih aman di Kuala Lumpur,” jelas Paradatheth. “Ling cerita soal kebiasaannya untuk nelpon ibunya setiap kali naik taksi pulang malam; meskipun mereka tidak bicara, itu cara untuk bikin sopir tahu dia diawasi oleh seseorang.” Anekdot ini sangat terasa bagi Paradatheth, yang kakaknya sendiri juga pernah cerita merasa tidak aman naik taksi. “Saya lihat ini masalah nyata yang saya ingin terlibat,” katanya.
Paradatheth bergabung penuh waktu pada 2015 dan ikut pindah ke Singapura, saat perusahaan berganti nama menjadi Grab. Dia kemudian memegang berbagai peran termasuk chief of staff dan head of engineering untuk riset dan pengembangan, sebelum diangkat menjadi CTO pada 2022.
“Banyak orang ikut bertumbuh bersama perusahaan, sama seperti saya,” katanya. “Banyak eksekutif senior di perusahaan ini adalah orang-orang yang bersama saya zaman gudang tahun 2012; mereka dulu magang dan sekarang jadi kepala teknik.”
Membangun kerajaan teknologi Asia Tenggara
Grab, yang menempati peringkat 128 dalam Fortune’s Southeast Asia 500, melaporkan pendapatan $2,8 miliar tahun lalu, naik dari hanya $469 juta pada 2020.
Paradatheth menghubungkan pertumbuhan Grab dengan meningkatnya kepemilikan smartphone di seluruh dunia, tapi dia ingat zaman perangkat itu belum terlalu umum. “Dulu di 2012, smartphone masih barang yang cuma dibeli oleh early adopters.”
Grab memutuskan untuk memberi sopir mereka smartphone dasar, Samsung Galaxy Y, supaya mereka bisa pakai aplikasi. Sopir bisa bayar ponsel itu dengan cicilan atau potongan dari pendapannya.
“Di Asia Tenggara, kita kerja dengan keterbatasan ekonomi yang cukup berat, karena kebanyakan pasar adalah pasar negara berkembang,” kata Paradatheth. “Jadi merekayasa untuk itu—baik dalam mengoptimalkan apa yang pelanggan punya dan bisa pakai, serta memastikan kita terus menekan biaya—adalah hal-hal yang sudah kita investasi sejak awal.”
Aplikasi Grab sudah jauh berkembang dari sekadar ride-hailing untuk mencakup pembayaran digital, asuransi, dan pengiriman. Mereka juga mengembangkan layanan pete-peta sendiri, GrabMaps, melepaskan diri dari solusi pete-peta pihak ketiga jadi
Google Maps misalnnya.
“Kami menemukan penyedia pete-peta pihak ketiga tidak punya cakupan yang kami mau,” jelas Paradatheth. ” Misalnya, jalan-jalan kecil yang dipakai pengendara motor roda dua dalam taksi motor kami tidak terlalu terekam Di pete-peta pihak ketiga.”
‘AI dulu, dengan hati-hati
‘
Grab sudah menanam lebih dari model 1000 model kepintaran merencanaan di platform urus kasus NUS mereka saat kut dengan n men, sama semua Men-diyana bersoalan ngomogn mis just TIngkat keungg-pikirin an ekonomi kit N tapi Pel: Bagus tetap terjadi Teran “|”—Terakhir ud Gagk start”.