Untuk generasi baby boom, punya rumah adalah jalan utama untuk membangun kekayaan. Pada 2025, generasi itu memegang $19 triliun dalam real estate perumahan — dari total $47.9 triliun nilai pasar perumahan milik sendiri di AS. (1)
Tapi apakah real estate masih cara yang pasti untuk menumbuhkan kekayaan? Itu pertanyaan yang ditanyakan Lena. Dia ibu tunggal berusia 32 tahun dengan anak laki-laki kecil. Setelah ayahnya yang sudah lama terpisah meninggal, dia mewarisi $420.000. Setelah hutangnya dibayar, tersisa sekitar $400.000 — dan keputusan besar harus dibuat.
Tanpa pendidikan kuliah dan sekarang kerja sebagai pelayan, Lena mempertimbangkan dua pilihan: pakai uangnya untuk beli rumah demi stabilitas jangka panjang, atau investasi di pasar saham untuk bangun kekayaan buat pensiun dan pendidikan anaknya. Dia ingin pastikan uangnya bertahan lama.
Beginilah cara investasi yang sama di real estate dan pasar saham bisa terjadi untuk Lena.
Secara sejarah, saham biasanya lebih baik dari real estate, walaupun ada hal penting yang Lena harus pertimbangkan waktu buat keputusan.
Kalau dia investasi di reksa dana indeks berbiaya rendah yang ikuti S&P 500, dia bisa harapkan rata-rata pengembalian tahunan disesuaikan inflasi sebesar 7.66%. Sebagai perbandingan, real estate perumahan AS telah naik nilainya sekitar 5.5% per tahun selama 30 tahun terakhir.
Pada pandangan pertama, ini mungkin buat saham terlihat seperti pilihan yang jelas. Tapi, ada perbedaan kunci yang harus diingat.
Pertama, saham cenderung lebih bergejolak daripada pasar perumahan, yang umumnya alami pertumbuhan lebih lambat tapi stabil. Kedua, kesuksesan di pasar saham tergantung pada investasi yang disiplin. Lena harus pertimbangkan untuk tetap di reksa dana indeks terdiversifikasi dan hindari sering jual-beli atau pilih saham sendiri, yang sering hasilnya lebih buruk dan punya risiko lebih besar.
Karena dia masih awal 30-an dan anaknya masih kecil, Lena punya waktu untuk hadapi naik turunnya pasar dan dapat manfaat dari pertumbuhan majemuk jangka panjang. Saham juga datang dengan pajak keuntungan modal lebih rendah dan biaya berjalan lebih sedikit daripada real estate.
Kalau dia investasi $400.000-nya di reksa dana indeks S&P 500 dan biarkan tumbuh, dia bisa punya sekitar $1.21 juta dalam 15 tahun — pas waktu anaknya kuliah — dan kira-kira $5.3 juta dalam 35 tahun, waktu dia siap pensiun.
Cerita Berlanjut
Bahkan tanpa tambahan kontribusi, investasi ini bisa beri Lena fondasi kuat untuk keamanan finansial di masa pensiun.
Keinginan Lena beli rumah untuk diri dan anaknya bisa dimengerti. Punya rumah sering mewakili stabilitas; namun, dengan pendapatan sederhana, itu bisa bawa tantangan serius.
Walaupun real estate kurang bergejolak daripada saham, dia datang dengan biaya berjalan: pajak properti (biasanya 1-2% per tahun), perawatan (sekitar 1%), asuransi, dan kemungkinan biaya HOA. Untuk rumah $300.000, ini totalnya bisa sekitar $12.970 per tahun — beban berat untuk gaji seorang pelayan.
Perbaikan tak terduga atau keadaan darurat juga bisa dorong Lena ke hutang kalau dia tidak punya cadangan cukup. Walaupun beli rumah lebih kecil di bawah $400.000 dan sisihkan dana untuk perawatan mungkin bisa, pakai tabungan darurat itu waktu ada masalah bisa jadi risiko.
Tidak seperti saham, real estate tidak likuid dan Lena tidak bisa mudah akses nilai rumahnya dalam krisis tanpa jual atau berhutang. Selain itu, beli rumah butuh banyak riset, apalagi di pasar kompetitif dimana dia harus seimbangkan lokasi, harga, jarak kerja, dan kualitas sekolah.
Sebaliknya, reksa dana indeks saham biasanya kenakan biaya sangat rendah (antara 0.03 dan 0.15%) dan tawarkan akses lebih mudah ke dana yang diinvestasikan jika diperlukan.
Baca Lagi: Jutawan muda memikirkan ulang saham di 2026 dan mengandalkan aset ini — inilah sebabnya orang Amerika yang lebih tua harus perhatikan
Lena mungkin tidak harus pilih antara beli rumah dan menabung untuk pensiun. Di beberapa kota AS, masih mungkin beli rumah dengan $200.000 atau kurang. (2) Kalau dia mau relokasi dan mulai baru dengan anaknya, dia mungkin bisa kelola kedua punya rumah dan investasi pasar saham.
Tapi, pindah jauh dari jaringan dukungannya bisa tingkatkan pengeluarannya. Pengasuhan anak saja mungkin beri dia biaya sampai $24.000 per tahun tergantung lokasi.
Kalau Lena investasi $200.000 di reksa dana indeks S&P 500 dan biarkan tidak tersentuh, itu bisa tumbuh ke sekitar $605.125 dalam 15 tahun dan kira-kira $2.65 juta dalam 35 tahun. Ini akan beri dia fondasi kuat untuk pensiun.
Sementara itu, kalau rumah $200.000-nya naik nilai dengan rata-rata tahunan 5.5%, itu akan bernilai $1.3 juta dalam 35 tahun.
Walaupun investasi di saham mungkin tawarkan Lena pengembalian finansial terbesar, beli rumah masih bisa jadi pilihan tepat kalau itu bawa dia ketenangan pikiran dan rasa stabilitas untuk anaknya.
Pada akhirnya, ini keputusan pribadi. Daripada stres cari opsi “sempurna”, Lena bisa merasa percaya diri karena tahu bahwa investasi pasar saham dan real estate adalah cara bertanggung jawab untuk gunakan warisannya.
Jalan apapun yang dia pilih, adopsi kebiasaan finansial yang kuat akan jadi kunci kesuksesan jangka panjang:
Hindari hutang: Sekarang hutangnya sudah lunas, Lena harus tetap pada anggaran yang realistis dan hindari ambil hutang baru.
Bangun dana darurat yang kuat: Menyisihkan beberapa dana untuk pengeluaran tak terduga akan bantu dengan stabilitas finansial.
Tetap tujuan yang jelas: Penasihat finansial bisa bantu untuk buat rencana yang dia mengerti dan percaya diri tentangnya.
Kami hanya mengandalkan sumber yang diverifikasi dan pelaporan pihak ketiga yang kredibel. Untuk detailnya, lihat etika dan pedoman editorial kami.
CRE Daily (1); Realtor.com (2).
Artikel ini menyediakan informasi saja dan tidak seharusnya diartikan sebagai nasihat. Disediakan tanpa garansi apapun.